Monday, February 13, 2012

Selamat Ulang Tahun

I have died everyday waiting for you

Darlin' don't be afraid I have loved you

for a thousand years

I'll love you

for a thousand more

(Christina Perri - A Thousand Years)


Hee...” Pemuda itu tersenyum, kepalanya mengelus rambut kusut lelaki yang terbaring itu lembut.


Ia membaringkan tubuhnya di samping tubuh sang lelaki, mengulurkan dua lengannya yang kemudian menghambur seperti kabut. Ia terkikik pelan, sepertinya ia terlalu kangen pada sentuhan sang lelaki, sampai-sampai lupa kalau seharusnya ia tidak melakukan hal tersebut karena--


“Hng--”


W-waa!” Ia menghilang.


--seharusnya arwah tidak mengganggu mereka yang masih hidup. Tapi Jun tidak sabar, tidak sabar ingin melihat ekspresi Akilla saat ia mendapat hadiah ulang tahun khusus darinya.


- -


Ini empat belas yang keberapa? Akilla melirik kalendernya dan pertanyaan itu (mau tidak mau, suka tidak suka) muncul dalam hatinya. Ia berusaha menepisnya pergi, tapi tidak bisa. Pertanyaan tersebut berhasil mengaitkan dirinya pada pikiran Akilla, membebani hatinya, dan membuat kepalanya yang penat (alkohol, seperti tiap malam lainnya) makin terbeban.


Lelaki itu menarik nafas panjang.


Ia berusaha membawa dirinya untuk bersender pada kursi meja makannya (yang ia letakkan bertahun-tahun yang lalu di samping jendela karena dia suka duduk di samping jendela) lalu melirik pada pemandangan di luar; jalanan metropolitan yang sesak, suara-suara gaduh, tawa para pasangan yang menikmati hari valentine mereka dengan bahagia.


(Apakah mereka menikmati kue cokelat juga?)


Akilla mengenakan mantelnya yang tergeletak di atas meja, lalu berdiri, meninggalkan apartemen tersebut. (“Aku pergi sebentar, jangan matikan telepon genggammu!” Ia berkata pada siapa sebenarnya?)


- -


Angin dingin menyapanya sesaat setelah ia menapakkan kakinya keluar rumah. Mendekap mantelnya lebih erat, lelaki itu berjalan pelan. Pandangannya tertuju ke depan dan ia tidak sadar akan sapaan orang-orang yang melewatinya (orang-orang itu biasanya menyapa mereka, karena dia lah yang sebenarnya mengenal orang-orang itu).


Ia berjalan melewati toko kue (yang menjual kue mangkuk itu), melewati tempat penitipan anak (apakah ini jam untuk menjemput?), melewati halte bus (mungkin ia sudah menunggu bus berikutnya, biarkan saja) dan langkahnya bertambah cepat sampai ia berhenti di bibir perempatan.


Ini empat belas yang keberapa?

- -


Ne, Killa, maaf ya tapi Dia baru memperbolehkan aku untuk memberikan kadomu sekarang.”


Pemuda itu menenggak ludahnya.


Lalu ia terlihat

- -


“Akilla!”


Lamunannya terbuyarkan (atau ia malah jatuh makin dalam ke dalam lubang delusi) dan kepalanya mendongak, menemukan sosok yang sedikit terlalu familiar, sedikit terlalu signifikan.


“Ne, 'Killa!” Suaranya mengalun lembut ke dalam telinganya, tubuhnya gemetar. Tidak, tidak. Ini pasti hanya salah satu dari ilusinya. Itu yang dikatakan dokter kan? Yang perlu ia lakukan adalah menutup telinganya, menutup matanya, menghentikan langkahnya--


(ia tidak mendengar seruan kerumuman di sekitarnya, tidak juga melihat kendaraan yang bergerak cepat ke arahnya)


--menghentikan semuanya.


“Selamat ulang tahun, Akilla.”


- -


Akilla Nakazawa terbangun di ruangan yang terlalu familiar, pagi yang terlalu familiar. Matanya melirik pada kalender yang sama familarnya dan mendapatkan kalau kalender itu kosong. Putih. Tidak ada angka empat belas dan dua tertera.


“Killa!” Sebuah tangan merengkuh tubuhnya, bibir bertemu pipinya, wangi sabun menyengat hidungnya. “Selamat ulang tahun...”

Lelaki itu terdiam, tidak sadar kalau tubuhnya bergerak secara reflek untuk merengkuh sosok di tangannya dan menciumnya balik, sekali, dua kali, tiga kali.


“Jun...”


“Ne!” Jun berseru riang, lebih senang dari apapun yang pernah Akilla dengar dan ia menyukainya, ia terlalu menyukainya dan mendekap kekasihnya itu lebih erat.


“Aku--”


“--meninggal...”


Akilla terdiam, begitu pula dengan Jun. Keheningan mengisi ruang di antara mereka untuk beberapa saat, sampai Jun menatapnya dengan khawatir, “'Killa meninggal karena--”


“Sssh.” Bibir Akilla bertemu dengan bibir Jun lembut, mendiamkan kata-kata pemuda di hadpaannya. Ia tahu apa yang terjadi dan rasanya ia tidak ingin memikirkan hal tersebut. Setelah waktu yang lama, ia merasa bahagia. Ia tidak ingin momen ini dirusak.


“--aku.”


“Aku tahu...” Tangannya mengelus kepala Jun lembut. Sosok yang ia lihat waktu itu memang bukan cuma ilusi. Mungkin manusia terlalu banyak mencari alasan untuk tidak melihat kenyataan yang ada di hadapan mereka.

“Selamat ulang tahun?”


“Mmhm,” mengangguk, Akilla memberikan sebuah ciuman pada dahi Jun. “Terima kasih untuk kadonya, Jun.”


Ekspresi khawatir pada pemuda di hadapannya itu sekejap sirna, digantikan dengan senyum yang lebar, senyumnya yang biasa. “Kau harus tahu bagaimana aku meminta Dia untuk memakaiku untuk 'kado'mu ini. Tidak gampang, lho, 'Killa.”


Jun memulai ceritanya dengan nada semangat, sama seperti dulu saat ia bercerita tentang anak-anaknya, tentang segala hal sebenarnya. Akilla tersenyum dan mengangguk, menarik kekasihnya ke pangkuannya dan bersender pada bantal di belakangnya. “Lalu?”


Lalu ia bercerita panjang lebar dan Akilla tidak pernah merasa lebih siap untuk mendengar ceritanya, karena kali ini ceritanya tidak akan selesai, karena kali ini mereka bisa menghabiskan waktu bersama selama apapun yang mereka mau, karena ini adalah empat belas yang terakhir—empat belas yang abadi.


Friday, December 23, 2011

[The Gift] Mistletoes

Author's note
Bagian dari The Gift. Entah kesambet apa, terus tiba-tiba pengen nulis fluff. Terus mikir-mikir, pairing mana yang bisa? Kayaknya cuma yang ini. Lol! Semi-AU-ish.

Info:
Word count: +/- 700
Disclaimer: All I Want for Christmas is You (c) Mariah Carey, Akihiko dan Jun punya saya, Arisu punya Thia.
Rating: PG-13
Genre: Fluff, romance.

Summary: Akihiko memiliki apresiasi estetika setara dengan keledai. Arisu berharap akan sesuatu yang lain.

---------------

I won't ask for much this Christmas
I don't even wish for snow
I'm just gonna keep on waiting
Underneath the mistletoe


Terkadang, Akihiko bingung. Kenapa hubungan antar pasangan harus bergantung pada sesuatu yang disebut sebagai pemberian? Lebih tepatnya, barang bagus nan mahal yang dapat memukau sang kekasih hati. Aduhai, bagaimana kalau kekasih hatimu sudah memiliki hampir segalanya?


Lalu, ia juga bingung bagaimana perempuan memiliki memori superior untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan penanggalan. Bagaimana mereka bisa mengingat dari tanggal-tanggal penting (ulang tahun, hari jadi) sampai yang tidak-penting-menurutnya-tetapi-menurut-mereka-penting (perayaan tiga bulan, dua bulan, satu hari?! Kau mengerti, maksudnya 'kan?).


Entah dimana ia harus menempatkan perayaan Natal, karena tentunya secara teknis mereka tidak merayakan Natal. Tetapi Natal di kota besar sudah berubah arti menjadi perayaan-dari-nun-jauh-Barat-sana yang mengutamakan kado dan perayaan.


Kado.


Akihiko menghela nafas panjang.



O o O


Menurut Arisu, memberi hadiah pada sebuah perayaan itu adalah suatu hal yang biasa. Terlalu biasa, kalau sampai hadiah tidak diberikan pada waktunya, itulah yang akan menjadi sesuatu yang tidak biasa.


Perhatian, semua perempuan menyukainya. Tentu saja. Perhatian itu estetis, menyenangkan, dan menurutnya adalah salah satu cara menyatakan rasa sayang seseorang. Tentunya perhatian tidak harus selalu dihargai dengan parfum terbaru keluaran Chanel atau tas keluaran musim dingin Vivienne Westwood yang menarik perhatiannya saat pagelaran busana kemarin. Perhatian bisa berupa sesuatu yang lebih sederhana.


Seperti sentuhan. Sebuah genggaman tangan di saat gugup, pelukan di saat sedih, cengkraman di bahu untuk sebuah penyemangat, atau sebuah ciuman.


Ah. Yang terakhir.


Sebagai anak dari orang tua yang berada—cenderung lebih—dengan karir yang sedang menanjak, Arisu tersadar apa yang belum ia punya. Atau lebih tepatnya, belum ia dapatkan dari kekasihnya.


Hm.


ooo


Seperti biasa, mereka berdua selalu menghabiskan waktu Natal mereka bersama di rumah Arisu. Pagi adalah untuk menghias rumah dengan hiasan Natal (sekali lagi, mereka tidak merayakan Natal, tetapi menurut Arisu hiasan natal itu indah dan untuk Akihiko yang memiliki kesadaran estetis setara dengan keledai, ia hanya bisa pasrah saja dan menjadi perpanjangan tangan Arisu dalam mengisi rumah besar itu dengan berbagai pernak-pernik mahal). Siang sampai sore adalah kunjungan ke rumah Akihiko dan Jun, yang berujung dengan perayaan kecil bersama anak-anak panti asuhan yang sering Jun kunjungi. Malam adalah waktu untuk bersantap di restoran mahal di pusat kota. Traktiran Akihiko, tentunya.


Mereka kembali ke rumah Arisu cukup larut, dalam perjalanan gadis itu terus memandangi Akihiko. Sang pemuda di belakang kendali tidak sadar, sepertinya. (Atau ia sadar namun menghindar?) Hari Natal sudah mau selesai dan tangan Arisu masih kosong. Oke, penuh dengan kartu ucapan buatan anak-anak panti yang lucu itu sebenarnya, tapi bukan itu maksudnya.


Kau mengerti maksudnya kan?


Arisu menarik nafas panjang. Menurutnya, satu-satunya yang tidak mengerti maksudnya adalah Akihiko. Menurut Akihiko, ia sudah mengerti maksud gadis itu tetapi ia... ragu.


ooo


Sekarang mereka sampai di rumah Arisu. Akihiko memarkirkan mobilnya lalu mereka berdua keluar bersamaan. Arisu melirik Akihiko sekali dua kali, namun nampaknya pemuda itu tidak sadar dan terus berjalan sambil melantunkan lagu Natal dalam siulan. Gadis itu menarik nafas panjang, sebuah cibiran nyaris muncul pada bibirnya.


“Hei.”


“Hm?”


Langkahnya terhenti. Akihiko berdiri di hadapannya sekarang dan menghalangi pintu.


“Uhm...”


“Akihiko,” gadis itu mendongak. “Kau menghalangi pintu masuk dan salju mulai turun lagi--”


Tapi sebenarnya tidak sedingin itu. Karena tiba-tiba tangan Akihiko sudah berada pada bahunya dan ia dapat merasakan hembusan nafas sang pemuda yang hangat. Mungkin itu juga karena jarak mereka yang sangat dekat, atau karena fakta bahwa seluruh wajah dan telinganya sekarang memerah karena jarak yang sangat dekat bahkan tidak ada jarak pada wajah mereka.


“Uhm—itu, uhm, selamat Natal?” Cengiran bodoh menyambut matanya yang sekarang terbuka lebar.


“Kenapa--”


Tuh.” Dengan wajah (sok) santai, Akihiko menunjuk ke atas. Daun mistletoe tergantung pada langit-langit yang menaungi mereka.


“Oh-- oh.” Arisu tertawa. Mereka berdua tertawa. Sampai Akihiko melambaikan tangannya dan melangkah kembali ke mobil, sampai Arisu mencium pipinya sebelum Akihiko menutup pintu mobilnya, sebelum mereka berpisah mereka masih terus tertawa. Bahkan sampai beberapa jam sesudahnya, saat Arisu tenggelam dalam pesan singkatnya dengan Akihiko, tawa itu masih terasa samar pada lidahnya, menyatu dengan bekas kecupan yang manis, dan sepertinya Arisu tidak akan melupakan rasanya.


Sesaat sebelum ia menutup matanya untuk tidur, tawa Arisu tiba-tiba terhenti.


Ia merasa tidak memasang mistletoe di tempat tersebut.


Pfft--”


Tawanya bertambah keras.

[The Gift] Because Home Is Where The Heart Is

Author's note
Bagian dari The Gift. Sometimes, too much tragedy is bad for the body. Jadi, sekali-sekali pengen nulis sesuatu yang sweet buat Jun. :) Semi-AU? Mungkin.

Info:
Word count: +/- 310
Disclaimer: I'll Be Home for Christmas (c) Bing Crosby, Jun punya saya.
Rating: All age.
Genre: Hurt/Comfort, Family

Summary: Aku pulang.

-----------------

Christmas Eve will find me


Where the love light beams


I'll be home for Christmas

.

.

.


Di atas ranjang putih itu, tubuhnya terbaring lemah. Tentu, ia bukan lagi dirinya empat puluh tahun yang lalu dan ia juga sadar bahwa tubuhnya tidak hanya terbeban oleh usia, melainkan juga penyakit. Beban yang membuatnya berkali-kali didekam dalam ruangan putih bersih ini.


Dalam enam puluh tahun hidupnya, ia sudah merasakan asam-garam kehidupan. Dunianya hampir lenyap saat ia masih muda dan sempat ia ikut tenggelam dalam duka dan kehilangan. Kapal penyelamatnya adalah mereka yang ia sebut saudaranya dan untuk waktu yang cukup lama, ia tinggal dalam kapal tersebut. Bertahun-tahun mereka berlayar bersama, sampai masing-masing berlabuh dan memilih tambatan masing-masing.


Lelaki itu tersenyum, kenangan membawa sedikit rasa hangat pada tubuhnya di tengah malam bersalju ini. Pandangannya teralih pada jendela yang membawa kilau sang Megapolitan Tokyo di malam Natal dan ia teringat pada ajakan keluarga kakaknya untuk datang ke rumah mereka dan menghabiskan minggu Natal bersama. Seperti biasa, lelaki itu tahu benar arti dari tawaran tersebut; berjanjilah untuk sembuh dan kembali bersama kami lagi.


Mereka baik. Mereka terlalu baik. Menawarkan tempat baginya untuk kembali, sekalipun ia masih memiliki sebuah flat untuk ditinggali. Tetapi ia tahu, itu bukan rumah baginya, walaupun mereka membuka tangan untuknya, ia tahu rumah mereka adalah untuk mereka tempati. Ia tahu, kalau yang ia lakukan selama ini hanya bersinggah dalam sebuah perjalanan—atau penantian?—panjang menuju pulang.


Dan malam ini ia merasa perjalanannya sudah berlangsung terlalu lama dan panjang jarak yang ia tempuh. Kakinya terasa linu dan bahunya terbeban. Tubuhnya lelah dan sebuah kerinduan untuk beristirahat muncul dalam dirinya.


Hm...


Dalam sebuah hembusan nafas, sebagian bebannya terasa ikut sirna. Ia rasa itu cukup, karena langkahnya hanyalah sedikit lagi. Sedikit lagi dan ia dapat beristirahat sejenak sebelum menyambut rumah.


Dan ia pun tersenyum. Jun menutup matanya perlahan.






Aku pulang.


.


.
If only in my dreams.


Setelah lama...

...akhirnya saya nulis fic lagi! Ga nyangka udah setahun ngga nulis fanfic apa-apa. Hahaha. Semoga masih bisa menulis untuk bisa dibaca. Mari mulai dengan proyek tema Natal : The Gift. Selamat membaca!

Friday, August 13, 2010

[50 Prompts] #029 Note

Theme: #029 Note

Side chara: Kai Imamura (punya Dhilla) dan Hinata Arisugawa (punya Nnan)

Notes: hasil dari hunting prompt + ide Nnan untuk membuat fanfic Jun-Kai. Sedikit absurd karena jadi dalam waktu kurang dari sejam. Ah, efek dari MV No Other (nyalahin SuJu ceritanya).


-o-


Ini... menyeramkan, membuatnya risih, dan sedikit-banyak takut.


Catatan-catatan kecil ini maksudnya. Potongan kertas warna-warna kecil yang tiba-tiba berada terselip di antara lembaran buku sejarah sihirnya, atau tertempel di meja kelasnya. Oh, pernah juga Kai menemukan lembaran tersebut di dalam rongga sepatunya.


Kalau boleh jujur, Imamura muda ini pada awalnya cukup merasa senang karena ada seseorang yang memperhatikannya. Tapi kalau setiap hari, beberapa kali sehari, ia dikirim pesan dari seseorang yang tidak dikenal begini, bagaimana ia tidak merasa risih?


'Jangan lupa makan.'


'Hei, jangan sedih ya.'


Pesan-pesan sejenis itu.


Seram? Tentu.


o o o


Sampai akhirnya di suatu siang musim dingin yang menjemukan, yang sepertinya mengimbaskan efeknya pada ketertarikannya terhadap kegiatan belajar-mengajar hari ini, ia memutuskan untuk bersembunyi di perpustakaan. Entah sial atau untung, gadis tersebut menemukan sosok pemuda kurus yang sangat familiar tertidur dengan posisi kepala dan tubuhnya tergeletak lunglai di atas meja baca di pojok perpustakaan, tempatnya biasa bersembunyi.


Tanpa pikir panjang, Kai menghampirinya. Kapan lagi ia bisa mendekati pemuda itu, kecuali saat pemuda itu sendiri tidak sadar?


Hm?


Apa itu—benda warna-warni yang berserakan di atas meja tersebut?


Dengan enggan Kai mengambil salah satunya, salah satu dari lembaran kertas warna-warni tersebut, yang berwarna merah. Dahinya berkerut, alis bertaut, jemarinya mencengkram kertas tersebut—ya, salah satu dari kertas warna-warni dengan tulisan tangan berantakan yang familiar itu.


Tsk.


Ia mengambil pena yang tergeletak di dekat kepala sang pemuda, menorehkan sesuatu ke atas salah satu kertas hijau yang masih kosong, lalu berjalan pergi.


o o o


Jun Nakazawa terbangun. Sudah lama rasanya sejak ia tidur selelap itu. Entah mengapa, rasanya tadi ia seperti terlindung oleh sesuatu yang familiar dan nyaman... oke, mungkin itu cuma salah satu buah imajinasinya yang berlebihan.


Ung?” Seketika sesudah tubuhnya kembali terduduk tegak, pemuda itu menemukan kalau pena miliknya berada di posisi yang berbeda dengan saat sebelum ia tidur. Panik, Jun buru-buru mengonsentrasikan pikirannya untuk mencari sesuatu yang rasanya terlihat berbeda lagi. Bisa gawat kalau ada orang yang menemukan catatan-catatan 'rahasia'nya ini.


Dan ia menemukan kertas hijaunya, yang tadinya bersih dan belum ada bekas lipatan, sekarang sudah kumal dan terdapat tulisan di atasnya.


'Berhenti mengirimkan kertas-kertas ini kepadaku. Mereka menyeramkan.


--Imamura.'


'DEG.'


Hai media massa, koreksi artikel-artikel kalian yang mencantumkan kalau kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Kiamat baru saja terjadi—setidaknya, buat seorang Jun Nakazawa.


o o o


Hei, Jun!”


...”


Jun? Kau baik-baik saja?”


Peduli setan kalau itu kakaknya yang berbicara. Halo, hati adikmu ini baru saja remuk dan berhenti bekerja, hilang dibawa harapan yang melayang pergi bersama sang gadis yang baru saja 'pergi' setelah menuliskan surat wasiatnya.


................”


Jun... err, ada orang yang mengisengimu tuh.” Bahkan saat sosok tersebut sudah berbicara di dekat telinganya, Jun masih tidak memberikan respon. Oh, buat apa ia memberikan respon? Buat apa ia hidup sekarang?


Matanya nanar memperhatikan kertas-kertas yang berserakan. Tidak berguna.


Lebih baik tidak ia pakai dari awal, lebih baik ia buang—ah, tidak, lebih baik sisi-sisinya yang tajam itu ia pakai untuk--


Lihat deh, ada orang iseng yang menempelkan kertas di punggungmu.”


'Eh?'


Hm... tulisannya rapi... Apaan sih ini? Pesannya aneh, 'kau boleh memberikanku pesan lagi, kalau isinya--'


E-eh?” Sedikit segan, Jun menoleh, mendapati kalau yang menyapanya sedari tadi adalah Hinata—sahabatnya dari awal ia bersekolah di akademi sihir ini.


Ah, tidak terbaca, Jun. Coba lihat deh.” Agak bingung, Hinata menyodorkan kertas itu ke hadapan sang pemuda berkulit pucat, masih tidak mengerti mengapa sang pemuda berkulit pucat—alias sahabatnya itu—terlihat begitu lesu dan lebih tidak bernyawa dari biasanya.


Dengan cepat Jun menyambar kertas berwarna merah jambu yang tadi dibacakan isinya oleh Hinata, membuat pemuda tersebut bingung dengan perlakuannya yang makin aneh. Mata Jun memicing, memperhatikan kata terakhir dari kalimat tersebut dicoret beberapa kali oleh sang penulis--yang Jun yakini adalah gadis yang sama dengan yang menulis nota pertama. Dan jangan tanya kenapa Jun bisa tau dan hafal bentuk tulisan tangan gadis itu.


Ung...”


Eh, kebaca dikit!” Hinata berseru, cengiran mengembang di wajahnya—dan dengan cepat berubah menjadi seringai iseng saat ia benar-benar dapat membaca kata yang dicoret tersebut.


Ini ai--” Telunjuk Hinata bergerak di atas kanji yang tertutup coretan tersebut, “--lalu ini shi-te--”

.

.

.

...ru.” Yang barusan itu Jun. Suaranya kembali, bersama dengan nyawanya, dan remukan hatinya yang ikut kembali menyatu. Begitu pula dengan seluruh dunianya, kehidupannya, harapan, dan masa depannya.


'DEG.' Kembali, jantungnya melewatkan satu detakan penting dan memompa terlalu banyak darah ke wajahnya, memunculkan semburat merah jambu pada pipi pemuda tersebut. Uh oh, otaknya mulai tidak bisa berpikir dengan jernih...


Jun? Ini dari sia—hei, hei, jangan pingsan dulu!”