|
|
Sunday, November 1, 2009 @ 1:47 AM
Author's Note Ini adalah murni fanfic yang saya dedikasikan untuk chara saya di IndoDurmstrang. Namanya Axel Lee. Selengkapnya mengenai Axel, bisa anda baca di sini. Saya berencana untuk membuat dia mati muda... tapi entah juga, ya. Ini kan cuma fanfic, cuma imajinasi penulis saat ini. Kalau ke depan nanti ada perubahan ya, biarkanlah. Oh ya, semua yang ada di sini adalah imajinasi saya dan tidak terjadi di dunia nyata serta Ada plot keluarga Lee (keluarga Axel) yang gue bocorkan di sini, jadi... spoilers ahead! Beware! Info: Word Count: 1.179 Disclaimer: IndoDurmstrang adalah milik Rara. Asal usul Durmstrang dan dunia sihir yang ada di sini adalah karya J. K. Rowling. Saya cuma punya plotnya dan punya Axel. Tampangnya Axel aja bukan punya saya *tawa hampa*. Veronica/Lee Yeon Ni punya Dhilla. Oh ya, saya juga mengambil potongan dari puisi Sapardi Djoko Damono, 'Aku Ingin'. (Yup, judul juga diambil dari sana.) Maafkan aku, Pak, puisimu bagus-bagus aku pakai untuk fanfic plotless gak jelas gini. ORZ. Rating: PG-13, karena... yah anda akan melihat nanti. Genre: Angst/Drama Summary: Aku tahu kata ‘hai’ tidak tepat untuk memulai, karena kau tidak suka berbasa-basi. Biarkan saja kau tidak menyukai ini semua dan membenciku karena ini. Tidak apa-apa, karena setelah kau membaca ini, aku memang yakin tidak akan ada ‘kita’ lagi. *** Seoul, 12 Desember 2002 Hai. Aku tahu kata ‘hai’ tidak tepat untuk memulai, karena kau tidak suka berbasa-basi. Biarkan saja kau tidak menyukai ini semua dan membenciku karena ini. Tidak apa-apa, karena setelah kau membaca ini, aku memang yakin tidak akan ada ‘kita’ lagi. Aku ingin menulis banyak hal, tapi aku tidak pandai memilih kata. Namun aku merasa harus menuliskan semua ini secepatnya. Aku takut. Mimpi buruk akan kenangan-kenangan kita dulu terus menghantuiku dan aku merasa dengan menuliskan semuanya di atas kertas ini, maka mungkin aku dapat lebih tenang. Di sini, aku ingin mengucapkan beberapa hal. Pertama, terima kasih. Terima kasih karena kau sudah mau mengurusku selama ini, bahkan saat ayah akhirnya memperbolehkanku untuk mengkonsumsi ramuan penghilang rasa kantuk itu secara teratur dan sebenarnya aku tidak memerlukan bantuanmu lagi, kau tetap memperdulikanku (walaupun caramu kadang agak menyebalkan). Terima kasih karena selalu berada di sisiku sampai akhirnya aku pergi meninggalkanmu sendiri. Tentang itu, aku juga mau mengucapkan maaf. Maaf karena meninggalkanmu sendiri tiba-tiba, waktu itu aku tidak mengucapkan apapun padamu tentang keberangkatanku ke Seoul. Maaf karena aku meninggalkanmu sendiri. Aku punya banyak alasan, yang akan kuberitahukan di sini nanti. Aku juga ingin minta maaf karena selama ini aku tidak selalu bisa memenuhi keinginanmu dengan baik. Terserah kau mau memaafkanku atau tidak, yang penting kata maaf ini sudah sampai padamu. Lagipula, aku percaya saat kau membaca ini, sudah ada yang dapat memenuhi segala keinginanmu lebih baik dari yang pernah kulakukan. Sekarang, tentang kepergianku. Ini aku lakukan untukmu, setelah aku mengetahui cerita yang sesungguhnya tentang kita; bahwa kita bukan saudara kandung. Aku dan kau memiliki ibu yang berbeda. Aku mengetahui hal ini saat membersihkan kamar ayah dan ibu setelah mereka meninggal pada kecelakaan itu. Aku menemukan tumpukan surat dalam sebuah laci rahasia di lemari pakaian ibu, salah satunya adalah akta lahir kita yang asli, berisi dua tanggal berbeda. Lalu, aku menemukan setumpuk surat-surat yang dikirim dengan jasa pos Muggle, surat-surat itu semua berasal dari Seoul. Semuanya menanyakan tentang kabarmu dan ada beberapa foto di sana. Semua foto itu berisi wajah wanita paruh baya dengan garis wajah yang mirip sekali denganmu, hanya saja matanya berwarna hijau. Lalu aku sadar mengapa kita memiliki kontur wajah yang begitu berbeda padahal kita adalah saudara, itu semua karena kita hanya setengah saudara. Aku menyimpan surat-surat itu di brangkas orang tua kita sekarang. Pergi saja ke Bank Laliv dan katakan kalau kamu adalah anak keluarga Lee dan berikan para goblin itu sehelai rambutmu untuk membuktikannya. Penemuan itu juga yang membuatku memutuskan untuk pergi ke Seoul. Sebenarnya tujuanku yang sebenarnya untuk pergi ke Seoul bukan karena ingin bekerja dan tinggal di tanah kelahiran kita, yang ingin kucari sebenarnya adalah wanita itu dan asal usulmu. Mungkin tahun depan aku akan ke Incheon dan mendapatkan lebih banyak lagi info tentang dirimu dan wanita itu, tergantung bagaimana Pemerintah Sihir Korea Selatan menempatkan Auror muda angkatanku bertugas. Tapi untuk jujur, ada alasan lain mengapa aku pergi. Aku ingin jauh-jauh darimu, namun tidak mungkin aku mengusirmu. Karena itu, aku memutuskan untuk pergi. Aku merasa, jika aku berada di dekatmu terlalu lama, maka perasaanku kepadamu dapat lebih bertumbuh lagi. Waktu itu aku takut karena kita adalah saudara dan aku menyadari kalau persaanku padamu lebih dari sekedar saudara. Lalu, aku menemukan surat-surat dan bukti-bukti itu. Kita bukan saudara dan aku makin takut. Kau sudah memiliki orang lain waktu itu. Aku yakin kau akan membenciku jika mengetahui semua ini, tapi biar saja, karena setelah kau membaca ini memang ‘kita’ sudah tidak ada lagi, yang ada hanya kamu (dan mungkin aku). Aku pikir, aku selalu hidup dalam kepastian. Tapi ternyata, satu-satunya yang pasti dalam hidupku adalah ketidakpastian. Bagiku, ini yang terbaik bagi kita. Lama-lama kita akan saling membenci dan semuanya selesai. Tapi, sebelum rasa benci itu muncul, aku ingin menuliskan ini semua. Aku ingin kau dapat tahu kalau aku sempat menyayangimu, walalupun aku tidak tahu bagaimana hubungan kita sekarang. Maaf aku tidak pernah menjadi oppa yang baik, aku tidak pernah mengatakannya langsung padamu. Dan sekali lagi, terima kasih untuk semuanya. P.S: Menulis seperti ini ternyata dapat membuat kepalaku terasa lebih ringan. Semoga tidurku dapat nyenyak dan tidak terganggu. Efek ramuan penidur yang diberikan ayah dulu ternyata tidak termasuk menghilangkan mimpi buruk. - Lee Seung Woo 12 Desember 2006, Katedral St. Isaac dari Dalmatia, St. Petersburg, Rusia. Entah dari mana lembaran perkamen tua ini, tetapi tiba-tiba ia muncul di atas meja riasnya. Dari gumpalan asap, berubah menjadi lembaran padat yang koyak pinggirnya. Perempuan itu menemukannya beberapa menit yang lalu dan terkejut melihatnya. Ia tidak terkejut tentang bagaimana benda itu bisa muncul tiba-tiba, ia tahu itu sihir, tapi yang membuatnya terkejut adalah nama yang tertera di bagian depan lembaran yang terlipat dua tersebut. Kepada: Lee Yeon Ni / Veronica Lee (jika anda masih menggunakan nama 'Lee' dan belum menikah) di manapun anda berada Itu namanya. Dan begitu melihat namanya tertera di sana, ia merasa ada sesuatu yang tidak baik di dalam kertas tersebut. Ingin ia menghiraukannya begitu saja, tetapi rasa ingin tahunya mengalahkannya dan sekarang ia menyesal telah mengikuti rasa ingin tahunya tersebut. Ia menyesal telah membuka dan membaca isi pesan singkat itu. Ia benci pesan tersebut; isinya dan pengirimnya. Ia benci semua ini. Kata-kata yang terangkai di atas perkamen tersebut. Ia benci kata-kata yang terlalu mudah dimengerti tersebut. Ia benci tulisan tangan kakaknya yang terlalu rapi, bahkan untuk sekedar pesan yang ditulis asal-asalan agar pikirannya tidak terganggu saat mau tidur. Ia benci kalimat-kalimat singkat yang tidak bertele-tele itu. Ia benci bagaimana otaknya terlalu mudah menangkap isi surat tersebut. Terlebih lagi, ia benci kenapa surat tersebut harus datang saat ini. Ingin rasanya ia membuang surat ini sekarang juga, atau mengembalikannya ke pemiliknya. Matanya yang terasa panas dan pedih bergerak menyisir surat tersebut lagi. Ia berusaha menahan segala rasa kesal dan amarahnya, serta kekecewaan yang muncul dan berusaha fokus mencari alamat kakaknya sekarang. Ia dapat mendatanginya nanti, melemparkan perkamen ini ke wajahnya bersamaan dengan semua hinaan dan pertanyaan yang mewujudkan diri mereka dalam kepalanya saat ia membaca pesan singkat tersebut.
Tiga kalimat yang membuat pertahanannya hancur seketika. Air matanya mengalir tidak terbendung bersama dengan tinta maskara yang belum lama disapunya, bersama dengan bubuk merah jambu yang membuat pipinya bersemu segar, bersama dengan seluruh rasa bencinya pada kakaknya. Dan mereka mengalir deras membasahi gaun putih panjang yang sudah ia persiapkan berminggu-minggu sebelumnya untuk hari ini. “Veronica, kamu sudah siap?” Kata-kata itu terdengar samar olehnya, bersamaan dengan decitan pelan pintu yang membuka. “Calon suamimu sudah menunggu, upacara pernikahan harus dimulai sekarang...”
P.S: 1 Januari 2003 - akhirnya aku memutuskan untuk menyihir surat ini agar sampai kepadamu jika aku tidak dapat memberitahukan langsung padamu. Pekerjaan di Incheon ternyata cukup berbahaya, dengan para penyihir Korea Utara itu dan sebagainya. Entah apa yang akan terjadi berikutnya. Semoga aku sempat menggali lebih banyak informasi tentang ibumu, namanya Patricia Tarasova, ia bekerja di keduataan Rusia di Korea Selatan. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; Dengan kata yang tidak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikannya abu (Aku Ingin – SDD / 1989) Labels: length: oneshot, roleplay based: indodurmstrang, sub: RP OC - Axel Lee 2 comments / give comment? |
|
|
Monday, September 21, 2009 @ 8:37 AM
Author's Note Tidak ada yang spesial... ah, tapi kayaknya penurunan mutu banget ya OTL Sungguh tidak diharapkan dari chapter 1. Semoga chap berikut bisa lebih bagus. Aaaargh. Info: Word Count: 831 Disclaimer: Seandainya saja saya punya seluruh anggota Super Junior :\ Oh ya, judul fic ini terinspirasi dari lagu-nya Lee Seung Gi yang berjudul sama. Rating: All Genre: Humor/Drama Summary: Kali ini Kyuhyun yang memotong perkataan Kibum dengan sebuah senyuman, miris dan tertahan, seakan mengatakan ‘maaf’. *** “Jadi... terangkan lagi, Kyuhyun-ah. Aku masih tidak mengerti...” Suara Donghae mengalun perlahan ke dalam telinga Kyuhyun, nyaris terdengar seperti bisikan. Kyuhyun memperhatikan pemuda yang terbaring di sebelahnya itu dari ujung matanya, sebelum mengembalikan pandangannya kembali lurus dan menaruhnya pada gumpalan awan yang melayang di atas sana. Langit masih cerah, sama seperti dua hari yang lalu saat ia menerima telepon mengejutkan dari kedua orangtuanya. Telepon mengejutkan yang Donghae minta jelaskan barusan. Sebenarnya ia sudah menjelaskan hal tersebut dua kali; pertama kali ia menjelaskan kepada kedua belas member lain dan sepertinya mereka masih dalam tahap shock yang membuat otak mereka tidak dapat menerima dan mencerna informasi darinya dengan baik, kedua kalinya ia menjelaskan kepada mereka satu per satu, termasuk Donghae yang waktu itu sedang sibuk dengan buku kehidupan luar bumi-nya. Begitu Kyuhyun selesai menjelaskan, Donghae malah minta dijelaskan lagi, dan saat laki-laki itu bersiap untuk membuka mulutnya lagi... mereka dipanggil untuk bersiap naik ke atas panggung. Entah ia yang terlalu sabar atau bagaimana sampai mau membuka mulutnya untuk ketiga kali. “Jadi Hae...” Kyuhyun memulai, diiringi geraman keluhan kecil dari Kibum yang terbaring di sebelah kanannya (Donghae di sebelah kirinya), Kyuhyun menoleh pelan ke kanannya dan memaksakan sebuah senyuman pada Kibum sebagai tanda ‘maaf harus mendengar cerita ini berkali-kali’. “Aku akan menikah.” “Umm... kenapa? Kau punya pacar tapi gak bilang-bilang ya?” “Perjodohan, Donghae.” Kibum menyahuti pertanyaan Donghae dengan tidak sabar sebelum Kyuhyun sempat mengeluarkan sepatah kata. “Umm yap, aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku... lebih tepatnya Kakekku.” “Hah? Kakekmu?” Kyuhyun dapat merasakan Donghae menatapnya dengan sebuah alis terangkat, walaupun pandangannya tetap terpaku pada langit yang menaungi mereka bertiga. “Yap, Kakekku... ini permintaan terakhirnya sebelum ia meninggal. Mau bagaimana lagi.” Sebuah senyuman miris mengembang di wajah Kyuhyun sambil kata-kata itu keluar. Matanya melirik ke arah Donghae, sedikit tidak enak dengan kata-katanya tadi. “Ooh...” Pelan tapi pasti, Kyuhyun yakin ‘ooh’ yang kali ini menunjukkan kalau Donghae benar-benar mengerti kali ini. “Hmmh.” Seraya mengangguk, Kyuhyun menggumam pelan sebelum melanjutkan kata-katanya, “Kakekku orangnya agak fanatik dengan tradisi dan ia ingin ada yang meneruskan keturunan keluargaku... yah, dia salah satu petinggi di marga kami, memang.” Oh, betapa Kyuhyun ingat saat ia kecil dulu sering dibawa ke upacara-upacara adat. Setelah ia masuk SMA saja semua itu berhenti, kakaknya Ahra sibuk berkuliah di luar negri dan pekerjaan ayahnya bertambah maju, serta ia sendiri mulai terjun ke dunia entertainment. Tetapi mau sesibuk apapun ayahnya, tetap saja laki-laki itu selalu mengikuti acara-acara adat, sama saja seperti kakeknya. “Oh begitu...” Desahan pelan kembali keluar dari mulut Donghae, Kyuhyun dapat mendengar kedua tangan Donghae bergerak, terlipat di belakang kepalanya sebagai alas pengganti bantal. Lantai teratas asrama mereka memang tidak dilapisi keramik, hanya semen halus yang terasa dingin sesudah hujan semalam. Saat-saat seperti inilah biasanya mereka bertiga—Kyuhyun, Donghae, dan Kibum, walaupun karena Kibum sibuk akhir-akhir ini sehingga lebih sering hanya Donghae dan Kyuhyun saja—memilih untuk beristirahat pada tempat tersebut. Hanya berbaring dan memperhatikan awan yang bergerak, mencoba melupakan jadwal latihan dan pekerjaan yang panjang dan membuat kepala penat. “Ah ya, Kyu-ah.” “Hm?” Ada dua ‘Hm’ terdengar bersamaan; yang satu dari pemuda yang paling muda, terdengar lebih datar dan yang lain dari pemuda berkacamata, nadanya lebih naik dan agak gusar. Yah, tidak ada yang mengira Donghae akan bersuara lagi. Mereka—atau lebih tepatnya, Kibum—pikir penjelasan Kyuhyun sudah cukup menjadi dongeng tidur Donghae. “Bukannya kamu punya kakak?” “Umm ya—“ “Kalau begitu, kamu tidak perlu menikah ‘kan?” “Ha—mmf!” Dengan cepat tangan Kyuhyun melayang ke arah mulut Kibum yang sudah terbuka. “Hmm... mungkin.” Dengan itu, Donghae menutup matanya. Sepath kata lebih menenangkan daripada cerita panjang Kyuhyun mengantarnya ke alam mimpi dengan sebuah senyuman kecil terkulum, terarah pada lelaki di sampingnya. Sebuah senyuman muncul di wajah Kyuhyun. Sebenarnya masih banyak yang harus diceritakan, beberapa hal penting mengapa ia harus menikah tapi... “KIBUM?!” ...Kibum menggigit tangannya. Dengan cepat Kyuhyun menarik tangan kanannya yang sedari tadi masih menyekap mulut Kibum dan mengibaskan tangannya itu, memperhatikan bekas merah yang cukup pekat, sepertinya Kibum menggigit tangannya dengan keras. “Apa-apaan—“ Pandangan Kibum menghentikan kata-katanya. Serius dan tajam, terpancar jelas dari kedua mata hitam kelam milik lelaki bermarga Kim tersebut. Dengan cepat Kyuhyun mengatupkan mulutnya, mengalihkan pandangannya kembali ke awan di atas yang bergerak lambat. Matanya tertutup sejenak. “Ya... kau memang punya kakak, Kyu. Tapi kakakmu perempuan. Jadi sama saja bohong ‘kan?” “...” “Kyu-ah...” Seakan menambahkan akhiran ‘-ah’ yang lebih akrab itu dapat meringankan tensi pembicaraan mereka, Kibum melanjutkan membuka mulutnya. “Cepat atau lambat Donghae akan tahu dan... yah, kasihan saja dia.” “Ah...” Kyuhyun mengubah posisinya, menghadap Donghae sekarang. Memperhatikan wajah pemuda yang tertidur tenang itu, seakan sudah tidak ada beban lagi, ia tidak rela untuk membangunkannya... baik dari tidurnya maupun kebohongan palsu yang sudah menenangkan laki-laki itu. “Aku akan melakukannya—“ Dan kata-katanya terpotong lagi, oleh sebuah tangan yang menggenggam erat lengannya. Tangan Donghae. Wajahnya terlihat begitu tenang, ditambah sebuah senyuman lebar, Kyuhyun makin merasa bersalah... dan tidak dapat membuka mulutnya. “—mungkin.” “Kyu...” Kali ini Kyuhyun yang memotong perkataan Kibum dengan sebuah senyuman, miris dan tertahan, seakan mengatakan ‘maaf’. Labels: fandom: super junior, length: multichapter, multichapterstory: Will You Marry Me?, sub: donghae, sub: kibum, sub: kyuhyun 0 comments / give comment? |
|
|
Friday, September 18, 2009 @ 12:36 AM
Author's Note Uoh, sungguh saya tidak menyangka akan menulis fanfic Super Junior lagi! Tapi mau bagaimana, imajinasi fans menggebu-gebu... daripada jadi gila, mending ditulis. Semoga kali ini ada perkembangan dari fanfic yang sebelumnya. Ohya, fanfic ini saya dedikasikan pada Mabel atas ide bersamanya. Dan doakan fic multichapter ini bisa jalan... ugh, ini kedua kalinya saya nulis fic multichapter. Dan mengingat fic pertama itu gak lancar (gak selesai T_T), semoga yang ini bisa lancar sampe tujuan deh *shot*. Info: “Ya, di sini Cho Kyuhyun dengan siapa saya—Oh, umma!” “Oh hai Kyunnie... Eh—maaf mengganggu, lagi telepon ya...” . . . “APA?!” *** Siang ini adalah siang biasa, bahkan terlalu biasa bagi ketiga belas laki-laki penghuni asrama Super Junior. Asrama tempat mereka tinggal sunyi, terlalu sunyi bagi tiga belas orang yang tinggal bersama. Biasanya, hanya ada lima orang saja tempat itu sudah ribut seperti kapal perang, tetapi sekarang... benar-benar sunyi. Tidak ada omelan Eeteuk, tidak ada bacotan Heechul, tidak ada bunyi alat masak berdentang yang digunakan Hangeng menyambut seruan Shindong yang meminta agar makanannya cepat masak, tidak ada keluhan Kangin saat menenangkan Eeteuk yang sedang dalam mode umma, tidak ada jeritan Sungmin yang melarang semua orang menyentuh properti merah jambunya, tidak ada ocehan Donghae tentang alien, tidak ada nyanyian Ryeowook, tidak ada kata-kata romantis terucap kencang-kencang dari mulut Kibum yang sedang berlatih naskah drama baru, tidak ada... oke, tidak ada suara tertentu yang diharapkan dari Yesung memang, dan tidak ada seruan makian Kyuhyun yang seluruh perhatiannya terpaku pada layar komputer di hadapannya dengan konsentrasi penuh menggerakkan keyboard untuk memenangkan game lagi. (Siwon? Ia memang sedang bersembunyi di kamar untuk beribadah dan membaca renungan harian.) Sunyi yang aneh, yang membuat tiap orang segan untuk memecahkannya. Tapi tidak begitu dengan ponsel Kyuhyun—yang tiba-tiba berdering dengan lagu ‘La chA TA’ dari f(x), band tetangga. Dan tidak begitu juga dengan Kyuhyun sendiri—yang tidak lama setelah mengangkat teleponnya mengeluarkan seruan ‘APA?!’ kencang dengan tidak tahu malu. Dan suaranya mengalihkan perhatian seluruh penghuni asrama tersebut. *** Pertama-tama, Kyuhyun disapa dengan Siwon dan pose alisnya yang menawan. Lalu Donghae maju ke hadapannya dan melambaikan tangannya di depan wajah Kyuhyun. Melihat tidak ada reaksi apa-apa, Eeteuk dengan sensor umma yang menyala menepuk bahu Kyuhyun dan ‘kau tidak apa-apa?’ pelan keluar dari mulutnya. Tapi kata-kata Eeteuk juga tidak berhasil menyentuh gendang telinga Kyuhyun. “Oh aku tahu,” Kibum angkat suara saat anak-anak lain mulai bingung melihat perilaku magnae mereka. Ia lalu berdiri dari sofa tempatnya duduk dan berjalan menuju laptop Kyuhyun yang terbuka, cahaya statis terlihat terang dari layar laptop berlayar 15 inch tersebut, menandakan bahwa game yang barusan dimainkan Kyuhyun sedang dalam keadaan pause. Dengan wajah santai, Kibum mengacungkan telunjuknya dan mengarahkannya mendekati touchpad laptop tersebut perlahan. Dan seraya ia melakukannya, kepalanya berpaling ke arah Kyuhyun untuk melihat reaksi pemuda itu— “Jangan coba-coba.” Pelan tapi pasti, tiga kata itu keluar dari mulut Kyuhyun yang dengan cepat melangkah ke arah Kibum dan menepis tangan laki-laki itu. “Tuh, bereaksi.” Kibum tersenyum kecil sebelum kembali ke posisinya semula, terlentang di atas sofa. *** “Nah, Kyu... ceritakan...” Kata-kata itu keluar dari mulut Eeteuk, dalam posisinya yang berdiri berhadapan dengan Kyuhyun dengan tangan yang terlipat di depan dada. Anggota yang lain berdiri di sebelah umma mereka, nyaris membentuk lingkaran dengan Kyuhyun sebagai porosnya. Dalam posisi ini, mereka yakin Kyuhyun tidak dapat kabur. Dan begitu pula sebaliknya. “...tentang telepon tadi.” Mereka menunggu untuk beberapa detik, tetapi sampai jarum panjang di jam berputar sebanyak 360 derajat, suara Kyuhyun masih belum terdengar. “Jadi?” Kali ini Heechul yang memulai, pandangannya menuding dan penuh ingin tahu. “Jadi...” “Ya, Kyu?” Donghae, kali ini. “Aku...” “Hm?” Siwon. “...akan...” “Um?” Ryeowook dengan anggukan kecilnya. “...” “Hah?” Kangin dengan tidak sabar—tentunya. “...menikah.” Labels: fandom: super junior, length: multichapter, multichapterstory: Will You Marry Me?, sub: kyuhyun 0 comments / give comment? |
|
|
Wednesday, July 22, 2009 @ 7:17 AM
Author's Note Ahahay setelah setahun lebih hiatus dari dunia fanfic, akhirnya gw kembali memutuskan buat nulis lagi! Pindah fandom sih, dulu kan Naruto, sekarang jadi real person gitu... Super Junior. Beda banget? Lol. Tantangan tersendiri sih, nulis real person fic kayak gini. Apalagi ini mengandung boys love... well, orang asli + bl = good? Ehehe. Maaf kalau berantakan dan kurang ada feel yang pas. Masih menyesuaikan diri jadi penulis lagi (cielah bahasa gw) LOL. Info: Word Count: 2.160 words Disclaimer: Saya tidak memiliki manusia-manusia ataupun produk yang ada di sini. Yang gw punya cuma tulisan ini sama plotnya... ehehe. Rating: PG (Parental Guidiance) untuk plot yang agak maju mundur dan jadinya agak membingungkan, ada sedikit bumbu Boys Love juga. Genre: Drama dan sedikit Angst (?) Summary: “Lagi... dan kali ini tidak ada kesempatan kedua ya?” “Eh?” Dong Hae memberikan tatapan bingung pada pemuda di sampingnya. “Untuk kembali bersama Super Junior.” To Be None Dingin. Gelap. Basah. Salju. Gelap. Darah. Entah mengapa ia tidak dapat menemukan kata untuk menjelaskan asal usul kegelapan di sekelilingnya, tidak seperti rasa dingin atau basah yang menyelimuti tubuhnya. Ia dapat merasakan salju menyentuh sisi-sisi tubuhnya yang terekspos dari pakaian, ia dapat merasakan darah yang mengalir di wajahnya. Tapi makin lama ia tidak merasakan apa-apa. Biarkan saja lah. +++ Masih gelap. Ia bertanya kenapa suasana di sekitarnya masih gelap, padahal ia yakin kedua matanya terbuka lebar. Ia bahkan sampai menggerakkan tangan kanannya—yang, demi Tuhan, rasanya sakit sekali untuk menggerakkan tangan itu—untuk menyentuh bola matanya. Terasa sakit... berarti kedua kelopak matanya membuka ‘kan? “Ah, anda sudah bangun—ASTAGA, jangan naikkan tangan kananmu seperti itu! Astaga, astaga, astaga, TURUNKAN SEKARANG!” Naikkan seperti apa? Tahu saja orang ini kalau menaikkan tangan kanannya terasa sangat sakit—tunggu, itu tadi suara siapa? Ia tidak pernah mendengar suara ibu-ibu dengan kecepatan seperti itu sebelumnya. “Sudah turun,” ucapnya pelan, tangannya berada di posisi seperti semula sekarang, di sisi tubuhnya. Terasa lebih nyaman memang. “Baik... astaga, jangan lakukan itu lagi oke? Tunggu, saya panggil dokter, mau beri tahu kamu sudah bangun.” “Dokter?” “Oh, saya lupa—“ (hela nafas) “—kamu di rumah sakit... maaf, saya lupa beri tahu. Nama saya Park Kyung Hwa, suster bertugas di lantai satu. Ini kamar 103, kelas 1 di Rumah Sakit St. Mary, hanya satu tempat tidur saja. Bel di sebelah kirimu, cepat-cepat pencet kalau ada apa-apa—atau hanya ingin ke toilet.” Suara ibu-ibu itu makin lama makin samar di telinganya, sepertinya menjauh. Ok, ia bisa melihat sendiri kalau suasananya tidak gelap dan konyol seperti ini. Tidak perlu dijelaskan seperti itu. “Kenapa tidak nyalakan saja lampunya? Err—aku tidak suka main tebak-tebakkan tempat.” “Sudah nyala—” entah apa lagi yang keluar dari mulut wanita itu, karena sekarang suaranya benar-benar menghilang. Sudah nyala? +++ Perlu 299.792.458 meter/detik bagi cahaya untuk merambat. Perlu 340,29 meter/detik untuk suara. Dan untuk kata-kata yang barusan ia dengar untuk merambat ke telinga, lalu ditransfer untuk dicerna oleh otaknya, perlu saat yang lebih lama. Perlu seperlima detik bagi tubuh untuk melakukan reaksi refleks. Perlu tiga menit dan empat puluh tiga detik baginya untuk bereaksi atas kesadaran yang menghantam otaknya begitu cepat. Perlu tiga menit dan empat puluh sembilan detik bagi air matanya untuk membasahi seluruh pipinya sekarang. Perlu seumur hidup baginya untuk dapat melihat lagi. +++ “Kau bangun—e- eh, kenapa?” Kalimat barusan terdengar setelah sebuah hantaman kencang pada tembok putih kamar rumah sakit dari pintu kayu yang dibuka paksa. Kalimat tersebut terdengar tepat saat wajahnya sekarang basah karena air mata. Buru-buru pemuda yang sekarang terduduk di atas tempat tidur berlapis sprei putih itu mengangkat tangan kanannya—dan rasa sakit mengikat lengannya kembali. “HEI, jangan gerakkan!” Ia dapat merasakan si pemilik suara mendekat, lalu menggenggam lengan kanannya, menahannya agar tetap tergeletak di sisi tubuhnya. “Tanganmu masih berlapis perban semua gitu, apalagi lengan bawahmu habis dioperasi kemarin... jangan gerakkan, oke? Pakai tangan kiri saja.” Dan itu yang ia lakukan, menggerakkan tangan kirinya ke atas, menggapai sesuatu yang ia rasa ada di hadapannya walaupun genggamannya hanya bertemu udara. Ia berusaha membuka mulutnya, memaksa pita suaranya bekerja untuk memanggil nama sang pemilik suara keras-keras. Tetapi tidak bisa. Realita beberapa saat yang lalu mencekik lehernya—seluruh tubuhnya. “Kenapa...?” Sepertinya sang pemilik suara sadar, menangkap tangan kiri dari pemuda yang terbaring dan menggenggamnya erat. “Su-suaramu tidak hilang kan? Lihat aku—ah sial. Maaf, ma-maaf a-aku tidak bermaksud—” “Hyung... Hae-hyung...” Genggaman tangan kirinya pada si pemilik suara bertambah erat, perlahan bergerak dalam rabaan pelan menuju bahu lawan bicaranya, berusaha menggenggam dan mendekatkan dirinya ke laki-laki itu. Tetapi tidak perlu sepertinya, lawan bicaranya bergerak duluan, mendekap tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya di bahu lelaki tersebut. Suasana seketika menjadi diam, tidak ada kata-kata, tidak ada isak tangis. Air matanya terus keluar tanpa isak, atau mungkin terpendam karena wajahnya yang tenggelam dalam bahu dan rambut lelaki itu. “Maaf, Kyu. Maaf.... Aku benar-benar—maaf.” +++ Untuk saat yang lama, posisi mereka tetap seperti itu. Pemuda yang lebih tua masih duduk di pinggir ranjang tempat tidur, dalam kedua tangannya terdapat pemuda yang lebih muda, mendekap tubuh laki-laki itu dan sekali dua kali menyentuh kepala yang lebih muda yang terbenam dalam lehernya. Sekali dua kali ia membenamkan kepalanya di rambut kecoklatan lelaki dalam pelukannya, tetapi lebih sering ia melihat ke luar jendela, dalam pandangan kosong. Untuk saat yang lama keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada yang mau mengeluarkan sepatah katapun dari keduanya. Untuk saat yang sangat amat lama, Cho Kyuhyun hanya dapat melihat kegelapan. +++ “Jadi... tabrakan lagi.” “Lagi... dan kali ini tidak ada kesempatan kedua ya?” “Eh?” Donghae memberikan tatapan bingung pada pemuda di sampingnya. “Untuk kembali bersama Super Junior.” +++ Satu per satu dari dua belas rekannya telah mengunjunginya, bahkan kata yang lain, Kibum mengunjunginya walaupun ia sendiri masih terluka. Entah mengapa ia tidak pernah tersenyum saat semua hyung-nya mengunjunginya, walaupun ia dapat mendengar kata-kata hiburan dan cerita-cerita dari mereka. Mendengar nyanyian mereka. Mendengar tapak kaki mereka saat mereka mencoba menari untuk menghiburnya—yang malah menghasilkan suasana aneh saat mereka semua sadar kalau ia tidak dapat melihat dance baru mereka Tidak akan. Kegelapan ini permanen. Tidak ada yang bisa menghilangkannya. Beberapa kali mereka mengajak Kyuhyun untuk bernyanyi. Yesung dan Ryeowook membawakannya MP3 player berisi melodi instrumen bagi lagu-lagu yang rencananya akan dikeluarkan dalam album K.R.Y beberapa bulan lagi. Mereka mengajaknya bernyanyi, memberi tahu bagian-bagiannya. Tetapi ia menolak. Ia tidak mau bernyanyi untuk terakhir kali bagi mereka. +++ (telepon diangkat) “Annyong, Donghae di sini~” “Hae-hyung... apa kata mereka?” “Kyu? Kata siapa?” “Manajer dan lainnya.... kapan mereka akan mengeluarkanku? Siapa penggantinya? Henry? Pasti, hm? Ia sudah lama bersama dengan kita—“ “Tidak ada yang menggantikanmu.” “Jadi kalian berduabelas nanti?” “Dua belas? Tidak.” “Eh?” “Tetap tiga belas, tentunya. Kau kan akan tetap bersama kami.” “...” “Kenapa, Kyu?” “Manajer atau Eeteuk-hyung belum memberitahumu...?” “Apa?” “Surat pengunduran diriku.” (telepon ditutup tiba-tiba) +++ Kangin murka. Heechul terus menggumamkan rutukan. Sungmin perlahan mengeluarkan isak. Yesung terus berusaha menenangkan Ryeowook yang kerap menggumamkan ‘kenapa’ berulang kali. Hankyung berusaha menenangkan Heechul. Shindong menjatuhkan makanannya. Siwon terdiam menatap piring yagn masih penuh di hadapannya. Kibum membanting gelasnya. Hanya Dong Hae dan Eeteuk yang diam, hanya mereka yang sudah tahu tentang hal ini terlebih dahulu—ooh dan juga pusat perhatian makan malam kali ini, Cho Kyuhyun yang duduk di ujung meja makan, berhadapan dengan Eeteuk. Lelaki yang baru saja berdiri dan menghadapi 12 rekan kerjanya yang lain untuk menyatakan pengunduran dirinya secara resmi. Eeteuk memintanya untuk menjelaskan sendiri alasan kepergiannya pada anggota Super Junior yang lain. “Kenapa, Kyuhyun...” Gumaman Ryeowook terdengar makin kencang sekarang, walaupun Yesung sudah setengah mendekapnya. “Hyung... ma-maaf.” “Kau pikir kau akan dimaafkan begitu saja hanya karena kau... kau buta?!” “Heechul! Jaga mulutmu!” Teriakan Hankyung menggema, mengalahkan seruan Heechul sebelumnya sambil menarik lengan lelaki itu agar duduk lagi. “Tidak... Aku minta dimaafkan karena aku buta.” Hening mengisi udara. Mereka semua memandang Kyuhyun, perasaan bersalah menggerogoti diri mereka masing-masing, khususnya Heechul. “Aku tidak dapat membantu kalian lagi. Maaf...” Dalam posisi duduknya, Kyuhyun terus menatap sepatunya—atau yang ia kira seperti itu. Entah apa yang ia tatap, yang jelas pandangannya terarah ke lantai berlapis karpet berwarna biru tersebut. “Tidak dapat?” Kali ini ia dapat mendengar Donghae angkat bicara. “Super Junior bukan hanya tentang tarian, Kyu. Kau masih bisa bernyanyi untuk kami! Kau bisa dibantu di panggung sana untuk bernyanyi. Aku yakin kita bisa memberikanmu kesempatan untuk solo tiap manggung, atau di album berikut—atau album K.R.Y! Aku yakin...” (hening). “Aku yakin kau bisa tetap bersama kami.” “Dong Hae benar, Kyu!” Ryeowook menimpali. “Kau bisa menjadi lead vocal kita! Solo di K.R.Y juga tidak mustahil—” “Hyuk, i-ini bukan tipuan seperti waktu Explorers of Human Body waktu itu kan?” Sungmin berusaha menahan isakannya, menoleh ke arah Eunhyuk—yang dengan berat hati memabalas perkataan Sungmin dengan gelengan pelan. “Biarkan,” suara Eeteuk menenangkan semua suara lain di sana. Lelaki berambut coklat pendek itu melipat kedua tangan dan kakinya, menatap lurus pemuda di sebrangnya, subjek semua kekacauan acara makan malam ini. “Biarkan Kyu membuat keputusannya sendiri.” “Tapi Eeteuk—“ Siwon yang terlihat diam dari tadi akhirnya membuka mulutnya. “Ssh,” sebuah jari dinaikkan ke bibirnya, tanda agar Siwon tidak melanjutkan kata-katanya. “Ini adalah pilihan Kyu Hyun, dan kita menghargai pilihannya. Aku yakin, walaupun Kyu adalah yang paling muda diantara kita, tetapi pemikirannya lebih dewasa dari beberapa di antara kita—“ ia melirik ke arah Heechul. “—aku yakin, Kyu telah memikirkan ini matang-matang.” Semua terdiam. Tidak ada yang berani melawan kata-kata Eeteuk, bahkan Kangin ataupun Heechul. Pandangan mereka semua berlari dari Kyuhyun, kecuali Eeteuk yang terus menatap lurus ke arah ex-magnae kelompok mereka. “Terima kasih, Eeteuk-hyung...” "Nah, nah, sekarang mari kita nikmati makan malam terakhir kita... bertigabelas." +++ Mereka mencoba untuk melanjutkan hari-hari mereka tanpa Kyuhyun. Proses pembuatan album keempat tidaklah mudah, semua bagian yang sudah direncanakan untuk Kyuhyun harus diganti dengan personel yang lain. Jadwal-jadwal harus diubah. Mempromosikan album keempat juga tidak mudah, kekecewaan fans menyerang mereka bagai ombak di kala badai. Makin banyak anti-fans yang bermunculan. Itu bukan kendala besar bagi mereka, jika dihadapi bertiga belas. Mereka tahu akhir akan datang, cepat atau lambat. Dan Kyuhyun mempercepat segalanya. Musim semi berikutnya setelah Kyuhyun mengundurkan diri dari mereka, Eeteuk maju ke hadapan umum, mengumumkan bubarnya mereka berdua belas, dan juga sub grup mereka. Ia berkata Super Junior adalah kumpulan tiga belas orang, bukan dua belas. +++ (telepon diangkat) “Halo?” “Hae-hyung?” “Kyu! Apa kabar? Maaf aku tidak bisa sering-sering mengunjungimu—ada jadwal MC, shooting, dan—” “Jelaskan, Hae.” “...” “Kau...” “Saranghae—dan maaf.” (hening menggantung) +++ Lebih baik tidak sama sekali daripada kurang satu. Kalimat itu terus bergaung di radio, televisi, berbagai media lainnya. Kata-kata yang meluncur dari mulut Lee Donghae saat konferensi pers, saat ia menyambar mic yang dipegang Eeteuk begitu saja. Saat ia berteriak ‘Kyuhyun, Saranghae’ dari lubuk hatinya begitu saja. Direkam dan dibawa langsung ke hadapan rakyat dunia dalam layar kaca mereka: pengakuan dosa terbesar Lee Dong Hae yang tersimpan rapih selama lebih dari setahun. Satu: ia mencintai Cho Kyuhyun. Dua: Ialah yang melukai orang yang ia cintai itu. Fisik dan batin. +++ “Maaf, Kyu. Maaf.... Aku benar-benar—maaf.” Hela nafas Dong Hae terasa di lehernya, hangat di tengah udara dingin kamarnya. “Tidak apa-apa, Hae.” Kyu Hyun tidak pernah menghapus kata ‘hyung’ pada akhir nama semua seniornya, kecuali untuk Dong Hae—di saat-saat pribadi mereka. Untuk sekian lama mereka terdiam. Kyu Hyun berusaha mengingat kejadian kemarin malam. “Aku... seharusnya aku tidak menyetir seperti itu. Seharusnya aku yang terluka—seharusnya—” “Ssh, cukup, Hae. Cukup.” “Kyu...” Dong Hae membenamkan kepalanya di rambut lawan bicaranya, ia dapat menghirup sedikit bau anyir darah dari sana, membawa rasa bersalah kembali ke dalam tubuhnya. “Kita buat ini rahasia oke, Hae? Bilang saja ini tabrakan lagi, se-seperti dulu.” Suara yang keluar dari mulut Kyu Hyun memelan, ingatan akan kecelakaan April beberapa tahun yang lalu bukanlah ingatan indah yang ia ingin untuk muncul tiba-tiba. "Ki-kita bisa bilang kalau kau tidak menyetir sendiri, tapi orang lain... dan mobilmu rusak." “Jadi... tabrakan lagi.” +++ Media Korea sekarang sibuk, mencatat kata demi kata yang terlontar dari mulut Lee Dong Hae. Pengakuan dosa terbesarnya, kenyataan yang terjadi malam musim dingin setahun yang lalu. Kecelakaan yang terjadi, bagaimana mobil Dong Hae menabrak Kyu Hyun yang baru keluar dari acara radio Yesung, Miracle for You. +++ (keheningan pecah) “Kenapa beri tahu mereka yang sebenarnya, Hae? Namamu...” “Tidak apa-apa. Biarkan saja seluruh Korea tahu. Seluruh dunia tahu bahwa—” “Lee Donghae, kau bodoh—” “—dan mencintaimu, Cho Kyuhyun.” (telepon itu menggantung begitu saja, tidak dimatikan, tapi tidak digunakan. sampai akhirnya dong hae mendengar suara kyu hyun dari seberang sana 'Hae... maaf.' dan dong hae akhirnya mematikan telepon genggamnya--dan berlari dengan cepat untuk mengejar kereta terakhir ke arah rumah kyuhyun.) +++ p e n u t u p Ia terbiasa dengan kegelapan itu sekarang. Telinganya menjadi jauh lebih peka. Ia bisa mendengar semua lebih jernih, bahkan suaranya sendiri. Sedikit banyak ia mensyukuri hal itu, dengan pendengaran yang bertambah tajam, ia dapat mendengar alunan musik lebih baik, ia dapat mendengar suaranya sendiri lebih baik dan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil yang sering ia perbuat. Sebulan yang lalu ia diundang ke sebuah acara televisi yang memintanya bernyanyi solo, Kyu Hyun hanya tersenyum menerima tawaran itu sambil memberi anggukan kecil. Ia tidak tahu saat ia naik ke atas panggung, seluruh penonton yang melihatnya menyanyi terkesima, terdiam, sampai akhirnya mereka sendiri yang memecah keheningan dengan tepuk tangan meriah dan seruan namanya. Tiga hari kemudian, SM Entertainment menghubunginya dan memintanya untuk menjadi penyanyi solo di bawah label mereka, mengusung bahwa dirinya adalah mantan dari tiga belas anggota Super Junior dulu. Ia hampir saja mengiyakan, tapi saat mendengar kata-kata terakhir, dengan tegas ia menolak penawaran tersebut. Ia mengatakan dengan mulutnya sendiri, ia mengatakan apa yang telah dikatakan lelaki yang mendampinginya selalu. Ia mengatakan ikrar yang sama dengan yang dikatakan lelaki itu dan sebelas orang lainnya sepuluh tahun yang lalu. Lebih baik tidak sama sekali daripada hanya satu. Labels: fandom: super junior, length: oneshot, pair: kyuhyun/donghae, sub: donghae, sub: kyuhyun 0 comments / give comment? |