Sunday, November 1, 2009

[Oneshot, RP Fanfic] Aku Ingin

Author's Note
Ini adalah murni fanfic yang saya dedikasikan untuk chara saya di IndoDurmstrang. Namanya Axel Lee. Selengkapnya mengenai Axel, bisa anda baca di sini. Saya berencana untuk membuat dia mati muda... tapi entah juga, ya. Ini kan cuma fanfic, cuma imajinasi penulis saat ini. Kalau ke depan nanti ada perubahan ya, biarkanlah.

Oh ya, semua yang ada di sini adalah imajinasi saya dan tidak terjadi di dunia nyata serta belum tidak terjadi di dunia tempat Axel dan Vero tinggal. Sebenernya ini juga gw buat gara2 gw lagi perlu ber-angst-angst ria, ga ada korban yaudah ini bocah aja gw nistain. HIHIHI.

Ada plot keluarga Lee (keluarga Axel) yang gue bocorkan di sini, jadi... spoilers ahead! Beware!

Info:
Word Count: 1.179
Disclaimer: IndoDurmstrang adalah milik Rara. Asal usul Durmstrang dan dunia sihir yang ada di sini adalah karya J. K. Rowling. Saya cuma punya plotnya dan punya Axel. Tampangnya Axel aja bukan punya saya *tawa hampa*. Veronica/Lee Yeon Ni punya Dhilla. Oh ya, saya juga mengambil potongan dari puisi Sapardi Djoko Damono, 'Aku Ingin'. (Yup, judul juga diambil dari sana.) Maafkan aku, Pak, puisimu bagus-bagus aku pakai untuk fanfic plotless gak jelas gini. ORZ.
Rating: PG-13, karena... yah anda akan melihat nanti.
Genre: Angst/Drama

Summary:
Aku tahu kata ‘hai’ tidak tepat untuk memulai, karena kau tidak suka berbasa-basi. Biarkan saja kau tidak menyukai ini semua dan membenciku karena ini. Tidak apa-apa, karena setelah kau membaca ini, aku memang yakin tidak akan ada ‘kita’ lagi.


***


Seoul, 12 Desember 2002

 

Hai.

 

Aku tahu kata ‘hai’ tidak tepat untuk memulai, karena kau tidak suka berbasa-basi. Biarkan saja kau tidak menyukai ini semua dan membenciku karena ini. Tidak apa-apa, karena setelah kau membaca ini, aku memang yakin tidak akan ada ‘kita’ lagi.

 

Aku ingin menulis banyak hal, tapi aku tidak pandai memilih kata. Namun aku merasa harus menuliskan semua ini secepatnya. Aku takut. Mimpi buruk akan kenangan-kenangan kita dulu terus menghantuiku dan aku merasa dengan menuliskan semuanya di atas kertas ini, maka mungkin aku dapat lebih tenang.

 

Di sini, aku ingin mengucapkan beberapa hal.

 

Pertama, terima kasih. Terima kasih karena kau sudah mau mengurusku selama ini, bahkan saat ayah akhirnya memperbolehkanku untuk mengkonsumsi ramuan penghilang rasa kantuk itu secara teratur dan sebenarnya aku tidak memerlukan bantuanmu lagi, kau tetap memperdulikanku (walaupun caramu kadang agak menyebalkan). Terima kasih karena selalu berada di sisiku sampai akhirnya aku pergi meninggalkanmu sendiri.

 

Tentang itu, aku juga mau mengucapkan maaf. Maaf karena meninggalkanmu sendiri tiba-tiba, waktu itu aku tidak mengucapkan apapun padamu tentang keberangkatanku ke Seoul. Maaf karena aku meninggalkanmu sendiri. Aku punya banyak alasan, yang akan kuberitahukan di sini nanti. Aku juga ingin minta maaf karena selama ini aku tidak selalu bisa memenuhi keinginanmu dengan baik. Terserah kau mau memaafkanku atau tidak, yang penting kata maaf ini sudah sampai padamu. Lagipula, aku percaya saat kau membaca ini, sudah ada yang dapat memenuhi segala keinginanmu lebih baik dari yang pernah kulakukan.

 

Sekarang, tentang kepergianku.

 

Ini aku lakukan untukmu, setelah aku mengetahui cerita yang sesungguhnya tentang kita; bahwa kita bukan saudara kandung. Aku dan kau memiliki ibu yang berbeda. Aku mengetahui hal ini saat membersihkan kamar ayah dan ibu setelah mereka meninggal pada kecelakaan itu. Aku menemukan tumpukan surat dalam sebuah laci rahasia di lemari pakaian ibu, salah satunya adalah akta lahir kita yang asli, berisi dua tanggal berbeda. Lalu, aku menemukan setumpuk surat-surat yang dikirim dengan jasa pos Muggle, surat-surat itu semua berasal dari Seoul. Semuanya menanyakan tentang kabarmu dan ada beberapa foto di sana. Semua foto itu berisi wajah wanita paruh baya dengan garis wajah yang mirip sekali denganmu, hanya saja matanya berwarna hijau. Lalu aku sadar mengapa kita memiliki kontur wajah yang begitu berbeda padahal kita adalah saudara, itu semua karena kita hanya setengah saudara. Aku menyimpan surat-surat itu di brangkas orang tua kita sekarang. Pergi saja ke Bank Laliv dan katakan kalau kamu adalah anak keluarga Lee dan berikan para goblin itu sehelai rambutmu untuk membuktikannya.

 

Penemuan itu juga yang membuatku memutuskan untuk pergi ke Seoul. Sebenarnya tujuanku yang sebenarnya untuk pergi ke Seoul bukan karena ingin bekerja dan tinggal di tanah kelahiran kita, yang ingin kucari sebenarnya adalah wanita itu dan asal usulmu. Mungkin tahun depan aku akan ke Incheon dan mendapatkan lebih banyak lagi info tentang dirimu dan wanita itu, tergantung bagaimana Pemerintah Sihir Korea Selatan menempatkan Auror muda angkatanku bertugas.

 

Tapi untuk jujur, ada alasan lain mengapa aku pergi.

 

Aku ingin jauh-jauh darimu, namun tidak mungkin aku mengusirmu. Karena itu, aku memutuskan untuk pergi. Aku merasa, jika aku berada di dekatmu terlalu lama, maka perasaanku kepadamu dapat lebih bertumbuh lagi. Waktu itu aku takut karena kita adalah saudara dan aku menyadari kalau persaanku padamu lebih dari sekedar saudara. Lalu, aku menemukan surat-surat dan bukti-bukti itu. Kita bukan saudara dan aku makin takut. Kau sudah memiliki orang lain waktu itu. Aku yakin kau akan membenciku jika mengetahui semua ini, tapi biar saja, karena setelah kau membaca ini memang ‘kita’ sudah tidak ada lagi, yang ada hanya kamu (dan mungkin aku).

 

Aku pikir, aku selalu hidup dalam kepastian. Tapi ternyata, satu-satunya yang pasti dalam hidupku adalah ketidakpastian.

 

Bagiku, ini yang terbaik bagi kita. Lama-lama kita akan saling membenci dan semuanya selesai.

 

Tapi, sebelum rasa benci itu muncul, aku ingin menuliskan ini semua. Aku ingin kau dapat tahu kalau aku sempat menyayangimu, walalupun aku tidak tahu bagaimana hubungan kita sekarang. Maaf aku tidak pernah menjadi oppa yang baik, aku tidak pernah mengatakannya langsung padamu.

 

Dan sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.

 

P.S: Menulis seperti ini ternyata dapat membuat kepalaku terasa lebih ringan. Semoga tidurku dapat nyenyak dan tidak terganggu. Efek ramuan penidur yang diberikan ayah dulu ternyata tidak termasuk menghilangkan mimpi buruk.

 

-         Lee Seung Woo

 

12  Desember 2006, Katedral St. Isaac dari Dalmatia, St. Petersburg, Rusia.

 

Entah dari mana lembaran perkamen tua ini, tetapi tiba-tiba ia muncul di atas meja riasnya. Dari gumpalan asap, berubah menjadi lembaran padat yang koyak pinggirnya. Perempuan itu menemukannya beberapa menit yang lalu dan terkejut melihatnya. Ia tidak terkejut tentang bagaimana benda itu bisa muncul tiba-tiba, ia tahu itu sihir, tapi yang membuatnya terkejut adalah nama yang tertera di bagian depan lembaran yang terlipat dua tersebut.

 

Kepada: Lee Yeon Ni / Veronica Lee 

(jika anda masih menggunakan nama 'Lee' dan belum menikah)

di manapun anda berada

Itu namanya.

 

Dan begitu melihat namanya tertera di sana, ia merasa ada sesuatu yang tidak baik di dalam kertas tersebut. Ingin ia menghiraukannya begitu saja, tetapi rasa ingin tahunya mengalahkannya dan sekarang ia menyesal telah mengikuti rasa ingin tahunya tersebut. Ia menyesal telah membuka dan membaca isi pesan singkat itu. Ia benci pesan tersebut; isinya dan pengirimnya.

 

Ia benci semua ini. Kata-kata yang terangkai di atas perkamen tersebut. Ia benci kata-kata yang terlalu mudah dimengerti tersebut. Ia benci tulisan tangan kakaknya yang terlalu rapi, bahkan untuk sekedar pesan yang ditulis asal-asalan agar pikirannya tidak terganggu saat mau tidur. Ia benci kalimat-kalimat singkat yang tidak bertele-tele itu. Ia benci bagaimana otaknya terlalu mudah menangkap isi surat tersebut.

 

Terlebih lagi, ia benci kenapa surat tersebut harus datang saat ini. Ingin rasanya ia membuang surat ini sekarang juga, atau mengembalikannya ke pemiliknya. Matanya yang terasa panas dan pedih bergerak menyisir surat tersebut lagi. Ia berusaha menahan segala rasa kesal dan amarahnya, serta kekecewaan yang muncul dan berusaha fokus mencari alamat kakaknya sekarang. Ia dapat mendatanginya nanti, melemparkan perkamen ini ke wajahnya bersamaan dengan semua hinaan dan pertanyaan yang mewujudkan diri mereka dalam kepalanya saat ia membaca pesan singkat tersebut.


Memang, ia tidak menemukan alamat atau lokasi kakaknya sekarang, tetapi ia menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan tertulis kecil-kecil dan tidak rapi, dengan tinta yang lebih terang, lebih baru. Hanya terdiri dari tiga kalimat singkat, sebuah pesan tambahan yang ditulis buru-buru.

 

Tiga kalimat yang membuat pertahanannya hancur seketika. Air matanya mengalir tidak terbendung bersama dengan tinta maskara yang belum lama disapunya, bersama dengan bubuk merah jambu yang membuat pipinya bersemu segar, bersama dengan seluruh rasa bencinya pada kakaknya. Dan mereka mengalir deras membasahi gaun putih panjang yang sudah ia persiapkan berminggu-minggu sebelumnya untuk hari ini.

 

“Veronica, kamu sudah siap?” Kata-kata itu terdengar samar olehnya, bersamaan dengan decitan pelan pintu yang membuka.

 

“Calon suamimu sudah menunggu, upacara pernikahan harus dimulai sekarang...”

 

P.S:

1 Januari 2003 - akhirnya aku memutuskan untuk menyihir surat ini agar sampai kepadamu jika aku tidak dapat memberitahukan langsung padamu. Pekerjaan di Incheon ternyata cukup berbahaya, dengan para penyihir Korea Utara itu dan sebagainya. Entah apa yang akan terjadi berikutnya. Semoga aku sempat menggali lebih banyak informasi tentang ibumu, namanya Patricia Tarasova, ia bekerja di keduataan Rusia di Korea Selatan.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;

Dengan kata yang tidak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

(Aku Ingin – SDD / 1989)