Author's Note
TWINCEST ♥ *dibunuh sama Dhilla*. Idenya gara-gara ngeliat gambar Ichiru dan Zero (dari Vampire Knight, lupa chapter berapa) pas si Ichiru lagi sakit. Aaaaa kenapa twincest itu lucu sekali. Dan btw, cuma buat menjelaskan, Jun emang bisa ngeliat makhluk halus. Pada dasarnya semua penyihir di dunia Ryokubita bisa melihat siluman dan makhluk halus (tingkat rendah). Nah, kemampuan untuk melihat arwah dan makhluk-makhluk halus Jun lebih tinggi dari orang lain karena... suatu hal. Mungkin lain kali gue bakal nulis fanfic tentang itu Edit Rabu 16 Juni 2010: saya masukan fanfic ini ke dalam tag fragmen. Kumpulan fanfic keluarga Nakazawa.
“Ngg...”
Kedua mata hitam itu tersembunyi di balik tangan pemiliknya, sekali dua kali mengintip dari sela-sela jari, tapi lebih sering menutupi. Pemiliknya sedang duduk di atas tempat tidur, menyenderkan punggungnya pada tumpukan bantal yang empuk. Pemiliknya adalah seorang bocah bernama Jun Nakazawa.
Bocah enam tahun itu sangat ingin untuk menutup matanya saja dan tidur, sayangnya tidak semudah itu untuk tidur saat ini. Uh, ini salahnya juga sih. Harusnya tadi begitu okaasan menutup pintu dan mematikan lampu Jun langsung tidur saja, tidak perlu iseng melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Habisnya gimana lagi? Jun benar-benar penasaran. Kamarnya yang baru ini baru selesai kemarin dan baru boleh ia tempati malam ini. Jun pikir di kamar ini ada 'teman' yang ramah juga seperti di loteng atau di ruang tamu bawah. Ternyata, yang ada di kamar ini malahan... uh, ngga usah dibicarakan ya? Jun sendiri tidak berani melihat makhluk itu lama-lama. Bentuknya menyeramkan dan si penunggu ini sepertinya senang berpindah-pindah tempat dan mengikuti Jun.
Sumpah, Jun mau keluar dari kamar ini sekarang juga. Mau balik ke kamar yang lama dan tidur sama Raito-niichan atau ke kamar okaasan dan otousan juga ngga apa-apa.
'Srek,'timbul suara dari gesekan antara selimutnya dengan sprei tempat tidurnya. Uh, oh. Jun tidak bermaksud untuk bergerak, tapi ujung kakinya gatal dan... yah--
“Waaa!” Bocah itu memejamkan matanya sekarang, membenamkan wajahnya pada bantal dan tidak berani melirik sama sekali. Makhluk menyeramkan itu barusan bergerak mendekatinya. Sepengetahuan Jun, mereka yang tidak bertubuh memang tidak dapat mengganggu manusia, tapi tetap saja wujud mereka yang menyeramkan itu mengganggu sekali. Kadang mereka membuat suara yang tidak menyenangkan. Uh, kenapa sih (cuma) ia (yang) bisa melihat semua ini?
'Kriek...'
Jun dapat mendengar deritan pintu kamarnya, ia ingin mengintip dan melihat siapa yang masuk tapi ia terlalu takut untuk melihat wujud makhluk tersebut. Sekarang saja matanya sudah basah karena air mata. Dari tadi Jun menahan agar isakannya tidak terdengar, takutnya okaasan dan yang lain masuk, kan ngga lucu kalau mereka melihatnya nangis 'tanpa alasan'? Habisnya, selama ini Jun tidak berani menceritakan tentang ini pada siapa-siapa, takutnya ia dikira aneh dan dijauhi.
“Jun-chan?”
'Raito-niichan?'
Klik.
Dan dengan itu, lampu kamarnya menyala. Jun yakin suara barusan adalah suara stop-kontak lampu kamarnya yang ditekan oleh kakaknya itu.
Perlahan, Jun mengusap air matanya dengan lengan baju hangatnya, lalu ia kembali duduk dan menyenderkan tubuhnya pada bantal.
“Okaasan bilang Jun-chan sakit, jadinya kamu disuruh tidur cepat ya? Terus, kebetulan aku tadi lewat depan kamar Jun jadi... Eh, Jun-chan kenapa?” Walaupun samar, Jun dapat melihat kalau kakaknya itu khawatir dan berjalan mendekatinya. Ia tetap menunduk dan menggeleng, tidak berani membuka mulut karena nanti isakannya lepas lagi dan kalau ia tidak menunduk... uh, makhluk itu masih terlihat walaupun samar.
“Jun-chan kok nangis? Terus badanmu dingin, sakit apa sih?” Tangan kanan kakaknya itu berada di atas kepalanya sekarang, mengusap puncak kepalanya pelan sebelum menyentuhkan punggung tangannya pada dahi Jun. Jun cuma bisa diam, tidak tahu mau jawab apa. Ngga mungkin kan dia bilang 'karena di belakang oniichan ada makhluk besar tidak jelas dan beradarah-darah'?
Jun mendongak sedikit sekarang, agak penasaran apakah makhluk tersebut sudah pergi atau belum. Pandangannya mencerah—sebenarnya makhluk itu belum pergi, tapi Raito-niisan menghalangi pandangannya akan makhluk itu, jadi...
Tuk.
Bunyi pelan itu terdengar saat Raito menyentuhkan dahinya pada dahi Jun. Mata Jun melebar sedikit, kaget akan kelakuan 'kakak'nya yang satu itu. Yah, sebenarnya sih seharusnya ia tidak kaget akan kelakuan-kelakuakan aneh Raito-nii...
“O-oniichan?”
“Ungg... Waktu itu aku lihat Hosokawa-san melakukan ini pada Yuri saat dia demam, kayaknya biar panasnya Yuri pindah ke dia, deh.” Alis Raito sedikit berkerut saat berbicara, seakan ia memikirkan sesuatu yang sangat berat. “Terus... gimana kalau panasku juga bisa pindah ke Jun? Jadi Jun ngga pucat dan dingin lagi.”
Kalimat terakhir itu ditutup dengan cengiran lebar yang biasa Raito berikan. Jun menggaruk sisi kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya tidak mengerti apa yang kakaknya lakukan, tapi dengan posisi ini kan ia tidak dapat melihat langsung makhluk itu, jadi Jun tidak berani protes apa-apa dan hanya mengangguk pelan.
Ah, menangis itu bikin capek ya? Apalagi kepalanya terasa berat karena flu... Perlahan mata Jun menutup, akhirnya ia bisa tidur tenang tanpa harus teringat bayangan makhluk yang-seharusnya-tak-kasat-mata tersebut. Tangannya menggenggam ujung kaus lengan panjang yang Raito pakai, takut kalau kakaknya itu pergi dan ia terbangun pada tengah malam nanti dan melihat makhluk tersebut lagi.
“Hee? Jun-chan? Jun-chan?” Raito mengedipkan matanya beberapa kali, sampai akhirnya sadar kalau adiknya itu sudah tertidur. Bocah itu mau pergi dan kembali ke kamarnya, tapi pegangan Jun di kausnya terlalu erat, ia tidak mau kalau pegangan Jun lepas dan membuat adiknya terbangun.
Lagipula, siapa sih yang seharian ini mogok bicara karena malam ini Jun pindah dari kamarnya?
Paling tidak Raito mendapat satu perpanjangan hari sebelum ia dan adiknya itu terpisah di kamar masing-masing.
Epilog / Extras
“Oniisan.”
Raito dapat merasakan tepukan di pundaknya, menyadarkannya dari alam mimpi yang baru ia arungi sesaat. Padahal baru lima menit ia duduk di kursi penonton ini, menunggu Jun datang dari ruang musik—mereka janji untuk ke Hakamadote sore ini—dan ia sudah tertidur.
“Hn,” ia menjawab singkat, suaranya nyaris hilang gara-gara radang tenggorokan ini, belum lagi hidungnya yang tersumbat. Kalau bukan karena janji pada Jun, Raito lebih memilih untuk membatu di bawah selimut sampai ia benar-benar sembuh.
Tuk.
“Jun... apa yang kau lakukan?” Walaupun Raito dapat melihat senyum lebar pada wajah Jun, tetap saja ia bingung kenapa adiknya itu tiba-tiba menyentuhkan dahi mereka. Raito tidak mengerti, kadang-kadang adiknya yang satu ini suka aneh dan...
(Sebuah gelengan pelan dan bahu terangkat menjawab pertanyaannya.)
...tidak mau menjelaskan sesuatu dengan kata-kata.
Tapi, entah mengapa ini bukan pertama kalinya mereka berada dalam posisi seperti ini. Sepertinya dulu sudah pernah, tapi kapan ya?
“Ayo, oniisan,” ucap Jun sambil menarik lengannya, membantunya berdiri—memerlukan waktu yang agak lama karena kepalanya benar-benar berat sekarang.
“Hng...” Raito merespon dengan malas, sedikit setengah hati untuk mengikuti Jun ke Hakamadote.
“Tapi, Jun... Hakamadote ke sebelah sana--”
“Kita ngga ke Hakamadote, Oniisan. Kita balik ke kastil, kau butuh istirahat.”
Matanya membulat, antara kaget dengan kata-kata Jun dan tiba-tiba sadar kapan Jun pernah melakukan hal yang sama dengannya... Jadi, sekarang ia yang diurus adiknya, hm?
Info:
Word Count: 1.027
Disclaimer: Ryokubita bukan punya saya, segala info tentang forum maupun dunianya, silakan klik ini atau ini. Raito Nakazawa punya Dhilla. Judul diambil dari lagu Adhitia Sofyan.
Rating: G (General).
Genre: Fluff, Brotherly Love,Twincest.
Summary:
Kadang-kadang, obat tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit. Ada hal lain yang lebih mujarab. Atau mungkin Raito Nakazawa terlalu banyak berimajinasi.
Genre: Fluff, Brotherly Love,
Summary:
Kadang-kadang, obat tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit. Ada hal lain yang lebih mujarab. Atau mungkin Raito Nakazawa terlalu banyak berimajinasi.
***
“I’ll be by your side, let’s close our eyes and end the day.”
Adhitia Sofyan – Greatest Cure
“Ngg...”
Kedua mata hitam itu tersembunyi di balik tangan pemiliknya, sekali dua kali mengintip dari sela-sela jari, tapi lebih sering menutupi. Pemiliknya sedang duduk di atas tempat tidur, menyenderkan punggungnya pada tumpukan bantal yang empuk. Pemiliknya adalah seorang bocah bernama Jun Nakazawa.
Bocah enam tahun itu sangat ingin untuk menutup matanya saja dan tidur, sayangnya tidak semudah itu untuk tidur saat ini. Uh, ini salahnya juga sih. Harusnya tadi begitu okaasan menutup pintu dan mematikan lampu Jun langsung tidur saja, tidak perlu iseng melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Habisnya gimana lagi? Jun benar-benar penasaran. Kamarnya yang baru ini baru selesai kemarin dan baru boleh ia tempati malam ini. Jun pikir di kamar ini ada 'teman' yang ramah juga seperti di loteng atau di ruang tamu bawah. Ternyata, yang ada di kamar ini malahan... uh, ngga usah dibicarakan ya? Jun sendiri tidak berani melihat makhluk itu lama-lama. Bentuknya menyeramkan dan si penunggu ini sepertinya senang berpindah-pindah tempat dan mengikuti Jun.
Sumpah, Jun mau keluar dari kamar ini sekarang juga. Mau balik ke kamar yang lama dan tidur sama Raito-niichan atau ke kamar okaasan dan otousan juga ngga apa-apa.
'Srek,'timbul suara dari gesekan antara selimutnya dengan sprei tempat tidurnya. Uh, oh. Jun tidak bermaksud untuk bergerak, tapi ujung kakinya gatal dan... yah--
“Waaa!” Bocah itu memejamkan matanya sekarang, membenamkan wajahnya pada bantal dan tidak berani melirik sama sekali. Makhluk menyeramkan itu barusan bergerak mendekatinya. Sepengetahuan Jun, mereka yang tidak bertubuh memang tidak dapat mengganggu manusia, tapi tetap saja wujud mereka yang menyeramkan itu mengganggu sekali. Kadang mereka membuat suara yang tidak menyenangkan. Uh, kenapa sih (cuma) ia (yang) bisa melihat semua ini?
'Kriek...'
Jun dapat mendengar deritan pintu kamarnya, ia ingin mengintip dan melihat siapa yang masuk tapi ia terlalu takut untuk melihat wujud makhluk tersebut. Sekarang saja matanya sudah basah karena air mata. Dari tadi Jun menahan agar isakannya tidak terdengar, takutnya okaasan dan yang lain masuk, kan ngga lucu kalau mereka melihatnya nangis 'tanpa alasan'? Habisnya, selama ini Jun tidak berani menceritakan tentang ini pada siapa-siapa, takutnya ia dikira aneh dan dijauhi.
“Jun-chan?”
'Raito-niichan?'
Klik.
Dan dengan itu, lampu kamarnya menyala. Jun yakin suara barusan adalah suara stop-kontak lampu kamarnya yang ditekan oleh kakaknya itu.
Perlahan, Jun mengusap air matanya dengan lengan baju hangatnya, lalu ia kembali duduk dan menyenderkan tubuhnya pada bantal.
“Okaasan bilang Jun-chan sakit, jadinya kamu disuruh tidur cepat ya? Terus, kebetulan aku tadi lewat depan kamar Jun jadi... Eh, Jun-chan kenapa?” Walaupun samar, Jun dapat melihat kalau kakaknya itu khawatir dan berjalan mendekatinya. Ia tetap menunduk dan menggeleng, tidak berani membuka mulut karena nanti isakannya lepas lagi dan kalau ia tidak menunduk... uh, makhluk itu masih terlihat walaupun samar.
“Jun-chan kok nangis? Terus badanmu dingin, sakit apa sih?” Tangan kanan kakaknya itu berada di atas kepalanya sekarang, mengusap puncak kepalanya pelan sebelum menyentuhkan punggung tangannya pada dahi Jun. Jun cuma bisa diam, tidak tahu mau jawab apa. Ngga mungkin kan dia bilang 'karena di belakang oniichan ada makhluk besar tidak jelas dan beradarah-darah'?
Jun mendongak sedikit sekarang, agak penasaran apakah makhluk tersebut sudah pergi atau belum. Pandangannya mencerah—sebenarnya makhluk itu belum pergi, tapi Raito-niisan menghalangi pandangannya akan makhluk itu, jadi...
Tuk.
Bunyi pelan itu terdengar saat Raito menyentuhkan dahinya pada dahi Jun. Mata Jun melebar sedikit, kaget akan kelakuan 'kakak'nya yang satu itu. Yah, sebenarnya sih seharusnya ia tidak kaget akan kelakuan-kelakuakan aneh Raito-nii...
“O-oniichan?”
“Ungg... Waktu itu aku lihat Hosokawa-san melakukan ini pada Yuri saat dia demam, kayaknya biar panasnya Yuri pindah ke dia, deh.” Alis Raito sedikit berkerut saat berbicara, seakan ia memikirkan sesuatu yang sangat berat. “Terus... gimana kalau panasku juga bisa pindah ke Jun? Jadi Jun ngga pucat dan dingin lagi.”
Kalimat terakhir itu ditutup dengan cengiran lebar yang biasa Raito berikan. Jun menggaruk sisi kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya tidak mengerti apa yang kakaknya lakukan, tapi dengan posisi ini kan ia tidak dapat melihat langsung makhluk itu, jadi Jun tidak berani protes apa-apa dan hanya mengangguk pelan.
Ah, menangis itu bikin capek ya? Apalagi kepalanya terasa berat karena flu... Perlahan mata Jun menutup, akhirnya ia bisa tidur tenang tanpa harus teringat bayangan makhluk yang-seharusnya-tak-kasat-mata tersebut. Tangannya menggenggam ujung kaus lengan panjang yang Raito pakai, takut kalau kakaknya itu pergi dan ia terbangun pada tengah malam nanti dan melihat makhluk tersebut lagi.
“Hee? Jun-chan? Jun-chan?” Raito mengedipkan matanya beberapa kali, sampai akhirnya sadar kalau adiknya itu sudah tertidur. Bocah itu mau pergi dan kembali ke kamarnya, tapi pegangan Jun di kausnya terlalu erat, ia tidak mau kalau pegangan Jun lepas dan membuat adiknya terbangun.
Lagipula, siapa sih yang seharian ini mogok bicara karena malam ini Jun pindah dari kamarnya?
Paling tidak Raito mendapat satu perpanjangan hari sebelum ia dan adiknya itu terpisah di kamar masing-masing.
- o -
Epilog / Extras
“Oniisan.”
Raito dapat merasakan tepukan di pundaknya, menyadarkannya dari alam mimpi yang baru ia arungi sesaat. Padahal baru lima menit ia duduk di kursi penonton ini, menunggu Jun datang dari ruang musik—mereka janji untuk ke Hakamadote sore ini—dan ia sudah tertidur.
“Hn,” ia menjawab singkat, suaranya nyaris hilang gara-gara radang tenggorokan ini, belum lagi hidungnya yang tersumbat. Kalau bukan karena janji pada Jun, Raito lebih memilih untuk membatu di bawah selimut sampai ia benar-benar sembuh.
Tuk.
“Jun... apa yang kau lakukan?” Walaupun Raito dapat melihat senyum lebar pada wajah Jun, tetap saja ia bingung kenapa adiknya itu tiba-tiba menyentuhkan dahi mereka. Raito tidak mengerti, kadang-kadang adiknya yang satu ini suka aneh dan...
(Sebuah gelengan pelan dan bahu terangkat menjawab pertanyaannya.)
...tidak mau menjelaskan sesuatu dengan kata-kata.
Tapi, entah mengapa ini bukan pertama kalinya mereka berada dalam posisi seperti ini. Sepertinya dulu sudah pernah, tapi kapan ya?
“Ayo, oniisan,” ucap Jun sambil menarik lengannya, membantunya berdiri—memerlukan waktu yang agak lama karena kepalanya benar-benar berat sekarang.
“Hng...” Raito merespon dengan malas, sedikit setengah hati untuk mengikuti Jun ke Hakamadote.
“Tapi, Jun... Hakamadote ke sebelah sana--”
“Kita ngga ke Hakamadote, Oniisan. Kita balik ke kastil, kau butuh istirahat.”
Matanya membulat, antara kaget dengan kata-kata Jun dan tiba-tiba sadar kapan Jun pernah melakukan hal yang sama dengannya... Jadi, sekarang ia yang diurus adiknya, hm?
0 comments:
Post a Comment