Wednesday, February 29, 2012

if I couldn't have you I'd rather be alone.


ia tersenyum. begitu lebar, begitu indah, begitu cantik, begitu nyata.

"aku jieun," katanya.

(kamu lee jieun, 19 tahun, ulang tahun 16 mei, bergolongan darah A, penyanyi terkenal di hongdae, kamu senang membaca, kamu lebih jago main gitar dari aku.)

malam itu myungsoo rasa ia memiliki sayap, mengangkatnya tinggi, membuat langkahnya ringan. sepanjang perjalanan pulang ia bersenandung (lagu yang gadis itu nyanyikan tadi) dan jemarinya terus menggenggam tas kameranya erat (isinya harta karun, kawan).

cengiran lebar menghiasi wajahnya seraya ia membuka pintu apartemen kecilnya. mata kembali bertemu dengan pasangan manik hitam yang sama, kali ini ekspresinya merengut.

"hai."

ia melemparkan tubuhnya ke atas sofa. ia menoleh dan kembali sepasang mata yang sama, dalam berbagai ekspresi, dalam berbagai ukuran, dalam berbagai lembaran. satu, dua, ratusan...

myungsoo tertawa.

"aku myungsoo."

(aku terobsesi padamu.)




- -
title (c) landon pigg - falling in love at a coffee shop

Monday, February 13, 2012

Selamat Ulang Tahun

I have died everyday waiting for you

Darlin' don't be afraid I have loved you

for a thousand years

I'll love you

for a thousand more

(Christina Perri - A Thousand Years)


Hee...” Pemuda itu tersenyum, kepalanya mengelus rambut kusut lelaki yang terbaring itu lembut.


Ia membaringkan tubuhnya di samping tubuh sang lelaki, mengulurkan dua lengannya yang kemudian menghambur seperti kabut. Ia terkikik pelan, sepertinya ia terlalu kangen pada sentuhan sang lelaki, sampai-sampai lupa kalau seharusnya ia tidak melakukan hal tersebut karena--


“Hng--”


W-waa!” Ia menghilang.


--seharusnya arwah tidak mengganggu mereka yang masih hidup. Tapi Jun tidak sabar, tidak sabar ingin melihat ekspresi Akilla saat ia mendapat hadiah ulang tahun khusus darinya.


- -


Ini empat belas yang keberapa? Akilla melirik kalendernya dan pertanyaan itu (mau tidak mau, suka tidak suka) muncul dalam hatinya. Ia berusaha menepisnya pergi, tapi tidak bisa. Pertanyaan tersebut berhasil mengaitkan dirinya pada pikiran Akilla, membebani hatinya, dan membuat kepalanya yang penat (alkohol, seperti tiap malam lainnya) makin terbeban.


Lelaki itu menarik nafas panjang.


Ia berusaha membawa dirinya untuk bersender pada kursi meja makannya (yang ia letakkan bertahun-tahun yang lalu di samping jendela karena dia suka duduk di samping jendela) lalu melirik pada pemandangan di luar; jalanan metropolitan yang sesak, suara-suara gaduh, tawa para pasangan yang menikmati hari valentine mereka dengan bahagia.


(Apakah mereka menikmati kue cokelat juga?)


Akilla mengenakan mantelnya yang tergeletak di atas meja, lalu berdiri, meninggalkan apartemen tersebut. (“Aku pergi sebentar, jangan matikan telepon genggammu!” Ia berkata pada siapa sebenarnya?)


- -


Angin dingin menyapanya sesaat setelah ia menapakkan kakinya keluar rumah. Mendekap mantelnya lebih erat, lelaki itu berjalan pelan. Pandangannya tertuju ke depan dan ia tidak sadar akan sapaan orang-orang yang melewatinya (orang-orang itu biasanya menyapa mereka, karena dia lah yang sebenarnya mengenal orang-orang itu).


Ia berjalan melewati toko kue (yang menjual kue mangkuk itu), melewati tempat penitipan anak (apakah ini jam untuk menjemput?), melewati halte bus (mungkin ia sudah menunggu bus berikutnya, biarkan saja) dan langkahnya bertambah cepat sampai ia berhenti di bibir perempatan.


Ini empat belas yang keberapa?

- -


Ne, Killa, maaf ya tapi Dia baru memperbolehkan aku untuk memberikan kadomu sekarang.”


Pemuda itu menenggak ludahnya.


Lalu ia terlihat

- -


“Akilla!”


Lamunannya terbuyarkan (atau ia malah jatuh makin dalam ke dalam lubang delusi) dan kepalanya mendongak, menemukan sosok yang sedikit terlalu familiar, sedikit terlalu signifikan.


“Ne, 'Killa!” Suaranya mengalun lembut ke dalam telinganya, tubuhnya gemetar. Tidak, tidak. Ini pasti hanya salah satu dari ilusinya. Itu yang dikatakan dokter kan? Yang perlu ia lakukan adalah menutup telinganya, menutup matanya, menghentikan langkahnya--


(ia tidak mendengar seruan kerumuman di sekitarnya, tidak juga melihat kendaraan yang bergerak cepat ke arahnya)


--menghentikan semuanya.


“Selamat ulang tahun, Akilla.”


- -


Akilla Nakazawa terbangun di ruangan yang terlalu familiar, pagi yang terlalu familiar. Matanya melirik pada kalender yang sama familarnya dan mendapatkan kalau kalender itu kosong. Putih. Tidak ada angka empat belas dan dua tertera.


“Killa!” Sebuah tangan merengkuh tubuhnya, bibir bertemu pipinya, wangi sabun menyengat hidungnya. “Selamat ulang tahun...”

Lelaki itu terdiam, tidak sadar kalau tubuhnya bergerak secara reflek untuk merengkuh sosok di tangannya dan menciumnya balik, sekali, dua kali, tiga kali.


“Jun...”


“Ne!” Jun berseru riang, lebih senang dari apapun yang pernah Akilla dengar dan ia menyukainya, ia terlalu menyukainya dan mendekap kekasihnya itu lebih erat.


“Aku--”


“--meninggal...”


Akilla terdiam, begitu pula dengan Jun. Keheningan mengisi ruang di antara mereka untuk beberapa saat, sampai Jun menatapnya dengan khawatir, “'Killa meninggal karena--”


“Sssh.” Bibir Akilla bertemu dengan bibir Jun lembut, mendiamkan kata-kata pemuda di hadpaannya. Ia tahu apa yang terjadi dan rasanya ia tidak ingin memikirkan hal tersebut. Setelah waktu yang lama, ia merasa bahagia. Ia tidak ingin momen ini dirusak.


“--aku.”


“Aku tahu...” Tangannya mengelus kepala Jun lembut. Sosok yang ia lihat waktu itu memang bukan cuma ilusi. Mungkin manusia terlalu banyak mencari alasan untuk tidak melihat kenyataan yang ada di hadapan mereka.

“Selamat ulang tahun?”


“Mmhm,” mengangguk, Akilla memberikan sebuah ciuman pada dahi Jun. “Terima kasih untuk kadonya, Jun.”


Ekspresi khawatir pada pemuda di hadapannya itu sekejap sirna, digantikan dengan senyum yang lebar, senyumnya yang biasa. “Kau harus tahu bagaimana aku meminta Dia untuk memakaiku untuk 'kado'mu ini. Tidak gampang, lho, 'Killa.”


Jun memulai ceritanya dengan nada semangat, sama seperti dulu saat ia bercerita tentang anak-anaknya, tentang segala hal sebenarnya. Akilla tersenyum dan mengangguk, menarik kekasihnya ke pangkuannya dan bersender pada bantal di belakangnya. “Lalu?”


Lalu ia bercerita panjang lebar dan Akilla tidak pernah merasa lebih siap untuk mendengar ceritanya, karena kali ini ceritanya tidak akan selesai, karena kali ini mereka bisa menghabiskan waktu bersama selama apapun yang mereka mau, karena ini adalah empat belas yang terakhir—empat belas yang abadi.